Lagu Indonesia Terfavorit 2020 yang Mungkin Belum Sempat Anda Dengar

Tersedia dalam bahasa:

Dari sekian banyak rilisan apik yang meramaikan kancah musik Indonesia pada tahun pagebluk kemarin, terdapat sepuluh lagu yang paling berkesan menurut Aldous dan Yogha Prasiddhamukti — dipilih atas dasar selera pribadi. Lagu-lagu tersebut punya daya tarik yang tidak bisa dilawan, yang langsung bikin sering dikonsumsi. Ada yang rilisnya jauh di awal tahun, ada yang tepat di hari terakhir 2020. Dari elektronik yang menggebu dengan ragam dentuman sampai variasi musik gitar dari kancah independen yang selalu bergairah, semua hilir mudik di telinga kami.

Yang patut digarisbawahi, hampir sebagian besar lagu di sini merupakan lagu-lagu yang luput dari daftar akhir tahun yang banyak bermunculan kemarin. Bukan apa-apa, nama-nama di bawah ini sepertinya terlalu bagus untuk sekadar masuk jadi honourable mentions; setidaknya menurut kami demikian. Diurutkan dari yang terfavorit dan paling sering diputar, berikut adalah lagu-lagu pilihan kami.

1. Ecilo – “Motor City Funk”

Sudah jelas, Ecilo paham Detroit techno luar dalam. Hebatnya lagi, dia juga paham bagaimana genre itu bisa diaplikasikan di gelanggang seleksi musik pesta ala Sunset People Project yang dekat dengan suasana petang, santai, dan semi-outdoor. Single yang dirilis lewat SPP Records ini adalah gambaran sensibilitas DJ yang mutakhir milik Ecilo.

2. toast – “Home Run”

“Home Run” adalah nomor indie punk/garage tanpa basa basi yang punya rasa manis-agresif berenergi tinggi; letaknya ada di titik temu antara emo/indie rock pertengahan ’90-an dan hardcore punk Amerika Serikat awal ’80-an. Paduan teriakan lirik soal kegugupan menghadapi ketidakpastian dan suara gitar bersih minim distorsi sangat beresonansi bagi saya. Maxi-single milik kuartet asal Tangerang Selatan ini makin memantapkan keyakinan saya bahwa kawasan tersebut merupakan rumah dari band-band potensial yang masih underrated di kancah musik independen lokal.

3. The Wellington – “It’s So Fine”

Judul yang benar-benar menggambarkan keseluruhan lagunya. Track yang menyenangkan ini dieksekusi dengan produksi yang bagus dan langsung menggugah sejak pendengaran pertama. Sentuhan power pop kental ala Teenage Fanclub berpadu harmonis dengan indie pop renyah penuh melodi yang menginfeksi. Salah satu lagu yang paling sering saya dengarkan tahun lalu. Walau sebenarnya lagu ini sudah muncul duluan tahun 2019 sebagai single untuk album Playmaker (2020), tapi peduli setan.

4. Vt-00 – “Sabotase

Dissa Kamajaya, lewat Future EXP yang dibesutnya, merilis sebuah kompilasi canggih bertajuk Ultra Kolosal pada akhir 2020 yang keruh. Temanya menyerempet dehumanisasi di masa depan. Lagu paling seru di dalamnya adalah “Sabotase” yang melangkah bagaikan nomor midtempo dari Agrikulture di era neo.

5. Dongker – “Merusak Kesenangan”

Dongker berhasil memberitahu bagaimana cara mereka bersenang-senang lewat “Merusak Kesenangan”. Punk rock tiga kord yang effortless dan tanpa basa basi dioplos dengan sikap garage dan sensibilitas power pop ’70-an. Liriknya satir dan disajikan dengan vokal khas yang aneh tapi bikin kecanduan. Kredit untuk label rekaman Greedy Dust yang punya spesialisasi di kancah hardcore/punk lokal karena memiliki kuping dan mata spesial dalam menemukan band seperti Dongker. Rasanya ada yang kurang di tahun 2020 kalau tidak ada lagu ini.

6. Fyahman – “Hussein Club”

Rilisan terakhir dari DEAD Records, label rekaman yang menjadi tempat bernaungnya para unit musik arwah. Masih tetap dengan kegelapan dan perasaan asing yang berbahaya, namun Fyahman menjadikan debutnya spesial dengan gaya bass yang masih sangat jarang di Indonesia.

7. Akhda – “Senoparty (Nirmana Remix)

Judul single ini adalah alasan terkuat yang membuatnya masuk dalam daftar. Selain itu, bass yang tidak disengaja boombaton berpadu harmonis dengan gaya trance yang cocok untuk big room massal ibu kota.

8. Winona Dryver – “Estetika Stroberi”

Trio asal selatan Yogyakarta ini tidak malu-malu untuk menawarkan kegaduhan pada awal tahun lalu. “Estetika Stroberi” adalah track pembuka dari album mini perdana mereka yang langsung membuat saya mengumpat penuh kekaguman. Dengan dinding suara yang lantang dan tajam hasil paduan efek-efek pedal gitar, Winona Dryver menampilkan raungan mentah khas musik alternatif/shoegaze ’90-an yang menggoda sekaligus menggelisahkan.

9. Mahamboro – “Dialog”

Dari Yogyakarta, Mahamboro merilis EP bertajuk Glimpse lewat Orange Cliff Records. “Dialog” adalah track pertama yang membuat kita penasaran akan persona Mahamboro. Asumsi kami sejauh ini, dia tidak tanggung-tanggung dalam belajar dan melakukan uji coba. Sebuah representasi apik dari semangat pencarian anasir-anasir baru di kancah musik Kota Pelajar saat ini.

10. Beta Daemon – “Crazy World of Mad Scientist

Kongsi sampingan dari Ape, pentolan grup musik post-punk Tarrkam, dan Denny Aulia, otak utama dan satu-satunya dalam proyek musik Meet the Doppelganger, memang punya tawaran sonik yang menarik. Dentuman bass dancey di intro disusul dengan bebunyian gitar dan synth aneh yang mengingatkan alasan saya menggemari punk nyeleneh dari DEVO dan Minutemen, bahkan rock ala CAN. Sejauh ini, “Crazy World of Mad Scientist” adalah terjemahan Devo-core terbaik dari Beta Daemon. Kapan lagi merasakan pengalaman psychedelia yang komplet sekaligus absurd dari lagu punk?

Lagu layak dengar lainnya:
ZIP – “Subdued”
Asylum Uniform – “Unconscious”
Sakarin – “Merah”
Kognes Park – “18/25”
Greybox – “Melografik”

About the Author

Aldous & Yogha Prasiddhamukti
-

Share Article

Sign up for our monthly newsletter and get the best of Printscreen in your in-box

© copyright 2020 Printscreen