Musik dan Film Favorit dari 2020

by Reno NismaraJan 25, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Bukan berita baru bahwa 2020 adalah tahun yang penuh tantangan, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai tahun terburuk sepanjang zaman. Namun, dari sudut pandang kreasi musik, harus diakui tak sedikit rilisan yang mampu menyita perhatian dalam setahun kemarin.

Banyak nama legendaris memutuskan turun gunung: Bob Dylan menulis lagu orisinal pertamanya sejak 2012, Sun Ra Arkestra merilis album studio pertama setelah dua puluh tahun, The Psychedelic Furs menelurkan album lagi sejak World Outside pada 1991 silam, dan tak ketinggalan kejutan kembalinya Fiona Apple. Nama-nama yang lebih anyar juga bertebaran, menghadirkan karya-karya yang diharapkan bisa memuaskan selera pendengar.

Aturan dan/atau kesadaran untuk berdiam di tempat tinggal bisa jadi penyebab tingginya kuantitas rilisan bermutu pada 2020. Para musisi yang memiliki banyak waktu, akibat ketiadaan jadwal konser, memilih untuk menulis lagu ketimbang luntang-lantung meratapi nasib. Kesendirian mereka berbuah menjadi karya.

Dengan konteks kesendirian tersebut, serta bagaimana kita banyak menghabiskan waktu di rumah saja selama 2020, rasanya jadi tepat untuk memilih album-album favorit tahun lalu dengan kategori spesifik artis solo. Nama-nama yang dipilih pun merepresentasikan upaya dalam menawarkan alternatif, menghadirkan lima album yang menurut saya pribadi seharusnya mendapat perhatian lebih. Jadi walaupun saya menyukai Fetch the Bolt Cutters, Heaven to a Tortured Mind, Inner Song, dan Rough and Rowdy Ways, keempat album tersebut tidak ada di daftar ini karena sudah menerima puja-puji yang pantas dari berbagai penjuru.

1. Frank Ene – No Longer

Penemuan musikal terbaik saya di sepanjang tahun. Kelam, sensual, dan dipadati bassline yang mengalir manis. Bayangkan senandung bariton Nick Cave dengan iringan komposisi gubahan Jean-Claude Vannier. Histoire de Murder Ballads?

2. Jeff Parker – Suite for Max Brown

Empat tahun setelah The New Breed yang didedikasikan untuk sang Ayah, Jeff Parker (juga dikenal sebagai gitaris Tortoise) melepas Suite for Max Brown yang dipersembahkan untuk Ibunda. Sebuah album yang meleburkan jazz dengan apa pun yang dirasa memungkinkan. Dan bagi Parker, seperti terdengar pada lagu-lagu yang tercantum di dalam, tiada yang tak mungkin.

3. No Joy – Motherhood

Anda seperti bisa menemukan semuanya di album ini: ada kepulan shoegaze yang memang sudah lekat dengan No Joy (kini diperkuat oleh Jasamine White-Gluz seorang diri), tapi terdapat pula irama trip hop, lenggak-lenggok acid house, bahkan distorsi metal. Apakah ada album shoegaze sebebas dan semenyenangkan ini sebelumnya?

4. Aoife Nessa Frances – Land of No Junction

Menawarkan gaya penulisan lagu Aoife Nessa Frances yang autentik dengan didukung kefasihan mencomot dan memadukan musik-musik kesukaannya, dari psych pop, acid folk, tropicalia, hingga hauntology. Singkatnya, ketika kebaruan dan nostalgia berjumpa.

5. Sonic Boom – All Things Being Equal

Fakta bahwa ini adalah album pertama Peter Kember sebagai Sonic Boom sejak Spectrum tiga dekade silam saja sudah pantas dirayakan. Apalagi kini ia semakin transendental dengan lirik repetitif bak mantra semacam “Make it about the way that you live/Make it about the way that you give” dan “What we see is what we strive to be/What we need is more simplicity”.


Namun apa yang dirasakan oleh musisi, sayangnya tidak berlaku untuk para pegiat film. Dengan banyaknya bioskop yang masih ditutup guna menghindari penyebaran virus, jumlah perilisan film baru pun berkurang drastis. Produksi juga berpotensi mandek, seperti yang dialami The Batman setelah Robert Pattinson dinyatakan positif.

Untungnya ada pihak-pihak yang gerak cepat beradaptasi dengan situasi: produser yang memindahkan pemutaran perdana filmnya ke layanan streaming, festival film yang diselenggarakan di ruang virtual, cetusan seperti Bioskop Online yang memutar film lokal lama dan baru, atau bahkan sutradara yang membuat karya sebagai respons langsung terhadap kondisi pandemi (untuk kategori ini, saya memilih film pendek In My Room dari Mati Diop sebagai yang terbaik).

Inisiatif-inisiatif itulah yang membuka celah bagi sebuah film untuk berkelana menemui penonton, atau sebaliknya penonton yang berjelajah mencari film. Jadi meskipun kuantitas film baru tidak sebanyak biasanya, masih ada kualitas yang berlimpah dari apa yang sudah dilepas ke luar sana.

Patut dicatat bahwa daftar ini hanya dihuni oleh film yang murni dirilis perdana pada tahun 2020. Jadi tidak ada, misalnya, film yang baru diputar secara komersial pada 2020, tetapi sudah tayang pertama kali di sebuah festival film pada 2019. Dengan begitu, saya bisa benar-benar mengapresiasi dan menyajikan karya yang terlahir tahun lalu.

1. David Byrne’s American Utopia (sutradara: Spike Lee)

Film konser ini — mendokumentasikan penampilan David Byrne dan musisi pengiringnya di Broadway — hadir di saat yang tepat. Konsepnya memang mutakhir, konteksnya juga kena sasaran, namun yang lebih penting lagi, keberadaannya seperti ditakdirkan untuk menghibur kita di situasi sekarang. David Byrne’s American Utopia siap diputar berulang kali, dengan volume kencang, kapan pun kita butuh dibawa bersenang-senang; dan rasanya, belakangan ini kita senantiasa membutuhkannya.

2. The Woman Who Ran (sutradara: Hong Sang-soo)

Inilah upaya Hong Sang-soo — kolaborasi ketujuhnya bersama aktris Kim Min-hee — dalam melucuti sinema hingga tersisa esensi terpentingnya saja. Tiga cerita, tiga percakapan santai antara perempuan, tiga kehadiran laki-laki yang membuat tak nyaman. Repetitif, minimalis, dan sederhana namun tetap bisa membicarakan hal-hal rumit. Tipe film yang bisa mendorong Anda untuk membuat film.

3. DAU. Natasha (sutradara: Ilya Khrzhanovskiy, Jekaterina Oertel) / Dear Comrades! (sutradara: Andrei Konchalovskiy)

Sulit untuk memisahkan dua film Rusia ini jika berbicara soal pengalaman menonton pribadi selama 2020; keduanya sama-sama mengambil waktu di era Soviet yang keji meski dengan cara bertutur masing-masing. DAU. Natasha merupakan bagian dari proyek kolosal yang proses pembuatannya disebut-sebut sebagai The Truman Show versi Stalinis, sementara Dear Comrades! memiliki sensibilitas sinema klasik lengkap dengan sinematografi hitam putih. Yang satu diselimuti aura kelam dan dingin, sementara satu lagi memuat humor gelap yang memicu senyum miris. Bisa jadi program double feature yang meluluhlantakkan.

4. Another Round (sutradara: Thomas Vinterberg)

Saya menolak mengerdilkan film ini menjadi tentang alkoholisme, eskapisme, atau pun hubungan sebab akibat antara keduanya. Karena pada pokoknya, Another Round adalah perayaan kehidupan dengan segala baik-buruknya.

5. Nomadland (sutradara: Chloé Zhao)

Pernyataan anti-kapitalisme yang kontemplatif dan, terlebih lagi, mampu membuat penontonnya memikirkan ulang apa hal-hal terpenting dalam hidup. Walau saya kurang yakin jika Nomadland bisa seefektif ini bila tidak diperankan oleh Frances McDormand. Aktris terbaik Amerika Serikat dalam satu dekade belakangan?

About the Author

Reno Nismara
-
Enam jahitan di kepala membuatnya percaya bahwa hidup penuh dengan sudut-sudut tajam. Salah satu pendiri kolektif kreatif Studiorama dan vokalis sekaligus pengocok tamborin untuk unit musik Crayola Eyes.
Share Article

Sign up for our monthly newsletter and get the best of Printscreen in your in-box

© copyright 2020 Printscreen