Clippings: ‘Lewat Djam Malam’ – Merestorasi Masa Lalu, Menyelamatkan Masa Depan

by Reno NismaraDes 18, 2020

Tersedia dalam bahasa:

Aktor A. N. Alcaff (kanan) berperan sebagai Iskandar, pemuda yang baru saja meninggalkan dinas ketentaraan, di Lewat Djam Malam.

Selamat datang di Clippings, rubrik yang menerbitkan kembali artikel-artikel lama yang dirasa sesuai dengan konteks dan peristiwa kini. Untuk edisi pertama, ada tulisan Reno Nismara tentang restorasi film klasik ‘Lewat Djam Malam’ — belum lama diumumkan menjadi film Indonesia pertama yang akan dirilis oleh Criterion Collection melalui inisiatif World Cinema Project-nya Martin Scorsese. Artikel ini pertama kali terbit di Rolling Stone Indonesia pada tahun 2012.

Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, terlihat hidup pada 18 Juni 2012. Jarum jam yang menunjukkan sudah larut dan fakta bahwa saat itu merupakan malam Senin ― hari yang paling dibenci oleh banyak kalangan ― tak mampu melunturkan wajah gembira yang terpampang pada sekumpulan manusia di sana.

Pembicaraan penuh gairah, rasa bangga yang tumpah ruah, hingga senyum sumringah melebur jadi satu. Tidak sedikit dari mereka yang hadir merupakan orang-orang penting industri film tanah air.

Lewat Djam Malam adalah alasan yang membuat mereka begitu bersemangat. Sebuah film Indonesia klasik produksi tahun 1954 yang disutradarai oleh Usmar Ismail, kemudian dijuluki Bapak Perfilman Indonesia. Seakan takdir, hasil restorasi film monumental tersebut diputar untuk pertama kalinya di Indonesia di gedung pusat perfilman yang mengabadikan namanya, dibangun oleh Pemda DKI Jakarta bersama orang-orang film pada 1975.

Restorasi film Indonesia adalah hal yang sudah ditunggu banyak penggiat film Indonesia; ada yang ingin melacak jejak perkembangan film Indonesia, ada yang berkenan meraba budaya Indonesia dari era lalu, bahkan ada pula yang dirundung rasa penasaran belaka. Jika negara lain memiliki Citizen Kane-nya masing-masing, maka lain halnya dengan Indonesia.

Kondisi Sinematek Indonesia yang kian kronis membuat menonton film Indonesia antik menjadi hal yang sulit. Pusat data, dokumentasi, dan perfilman Indonesia yang juga merupakan lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara tersebut sudah terlalu sering diberitakan kalau kondisinya semakin memburuk, namun belum ada upaya-upaya signifikan dalam menjauhi sejarah sinema Indonesia dari liang lahat.

Seperti dikatakan oleh Lisabona Rahman, salah satu anggota tim proyek restorasi Lewat Djam Malam yang juga menjabat sebagai editor situs FilmIndonesia.or.id dan manajer program Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, melalui tulisannya yang berjudul Apa Kami Hanya Pantas Menonton Film-film Rusak?: Sinematek Indonesia dan Generasi Indonesia Masa Depan, “Kali pertama menyaksikan karya-karya klasik film Indonesia adalah saat-saat magis yang bukan saja menggetarkan, tapi hampir selalu juga menyakitkan. Film-film berharga dari masa lalu itu kami tonton dalam keadaan terputus-putus, penuh goresan dengan suara yang kadang cempreng, kadang hilang sama sekali. Betapa irinya kami pada orang-orang yang menontonnya di masa lalu dengan gambar mulus dan suara merdu.”

Sinematek menyimpan koleksi seluloid film Indonesia di rubanah Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail. Terdapat empat karyawan yang bekerja di bagian penyimpanan dan pemeliharaan film, mereka menghabiskan waktu di ruangan besar dengan suhu dingin yang dipenuhi bertumpuk-tumpuk gulungan film. Arie Kartikasari, penulis FilmIndonesia.or.id, mengungkapkan lewat catatannya tentang ruang penyimpanan Sinematek bahwa perawatan film di sana dilakukan berdasarkan urutan rak penyimpanan, setiap hari karyawan bagian pemeliharaan film bisa membersihkan dua sampai tiga judul film, tergantung jumlah gulungan filmnya. Dengan jumlah sumber daya manusia yang terbatas serta peralatan yang ketinggalan zaman, perawatan dan pencatatan kondisi seluruh isi ruang penyimpanan film bisa memakan waktu dua tahun.

Sinematek menyimpan 414 judul yang terdiri dari 84 kopi negatif, 17 judul hitam-putih dalam format 16 mm, 58 judul berwarna dalam format 16 mm, 53 judul hitam-putih dalam  format 35 mm, dan 235 judul berwarna dalam format 35 mm. Ada pula 313 judul koleksi dokumentasi dalam format seluloid. Koleksi tersebut memang sangat sedikit, 14 persen dari keseluruhan warisan nasional dalam medium film, namun bahkan angka-angka itu tidak menjadi jaminan.

Faktanya, banyak judul yang berada dalam kondisi memprihatinkan: 37 dari 84 kopi negatif tidak lengkap, seluruh koleksi 16 mm hitam-putih tidak dapat diputar karena rusak dan tidak lengkap, delapan koleksi 16 mm berwarna sudah mengalami kerusakan ringan, 23 judul format 35 mm hitam-putih masuk kategori rusak dan tidak dapat diputar, 10 dari 23 judul tersebut tidak lengkap, 9 dari 235 judul film berwarna dalam format 35 mm tidak dapat diputar karena rusak, dan 36 film berwarna dalam format 35 mm yang dapat diputar telah mengalami kerusakan ringan.

Tapi cukup berbicara angka; sudah melelahkan, angkanya buruk pula. Lebih baik berbicara kabar gembira, kembali ke hasil restorasi Lewat Djam Malam yang sukses besar membuat gambar film tersebut mulus serta bersuara merdu.

Semua berawal dari persahabatan,” seperti kata kritikus film senior JB Kristanto yang juga menjabat sebagai penasihat proyek restorasi film Lewat Djam Malam. Pada tahun 2010, Philip Cheah selaku kritikus film ternama asal Singapura bersama JB Kristanto berkolaborasi dengan Yayasan Konfiden dan National Museum Singapore untuk menerjemahkan Katalog Film Indonesia, kumpulan data film Indonesia yang memiliki ketebalan 400 halaman, ke bahasa Inggris demi menggaet lebih banyak pembaca. Seiring berjalannya waktu, Cheah mengejutkan Kris, panggilan akrab JB Kristanto, melalui surat elektronik yang menyinggung kemungkinan pemutaran spesial hasil restorasi film Indonesia klasik sebagai salah satu agenda acara peluncuran Katalog Film Indonesia versi bahasa Inggris. Surat elektronik dari Cheah berikutnya tiba pada 12 Januari 2010 di mana ia meminta Kris mengusulkan satu judul film Indonesia yang layak direstorasi; di sinilah Lewat Djam Malam mulai mencuat ke permukaan, pilihan utama Kris dan bahkan satu-satunya.

Alasan Kris menunjuk Lewat Djam Malam sebagai film yang direstorasi sangatlah sederhana sekaligus lugas. Ia menjelaskan: “Tidak ada hubungan personal yang spesial atau menyentuh antara saya dan film itu. Benar-benar karena menurut saya Lewat Djam Malam adalah film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton, belum ada film lain yang bisa melampauinya.”

Walau begitu, Kris tidak mau menyebut Lewat Djam Malam sebagai film yang sempurna; ending film tersebut bertele-tele menurutnya. “Tapi menilai film kan bukan dari ending saja, secara keseluruhan film inilah yang terbaik sepanjang sejarah di Indonesia,” lanjut pengagum sutradara Jepang, Yasujiro Ozu, ini.

Lisabona Rahman, yang biasa dipanggil Lisa, mengaku sudah bisa menebak bahwa Lewat Djam Malam adalah film yang akan dipilih seniornya tersebut. “Saya tahu sejak lama bahwa Lewat Djam Malam adalah film jagoan JB Kristanto. Menurut saya, ini pilihan terbaik sejauh yang saya tahu, dan saya nggak tahu banyak,” ucap Lisa dalam sebuah wawancara terpisah.

Kris tak ingat pasti kapan ia pertama kali menonton Lewat Djam Malam, kemungkinan pada dekade ’90-an saat menyusun Katalog Film Indonesia perdana. Ia mengenang, “Waktu itu saya berpikir, ‘Kok rasanya belum pernah ada film Indonesia sebagus ini?’”

Sementara itu, Lisa pertama kali menonton Lewat Djam Malam pada 2007 ketika bergulirnya program retrospektif Asrul Sani yang diberi tajuk Asrul Sani: (Arsitek) Cetak Biru Lintas Waktu. “Jadi sebetulnya yang saya lihat Asrul Sani-nya dulu, bukan Usmar Ismail,” kata Lisa yang lalu lanjut menceritakan bahwa ia pertama kali menonton Lewat Djam Malam lewat medium VHS dengan gambar dan suara yang kacau.

Setelah memutuskan judul film yang akan direstorasi, Cheah menggalang kerja sama dengan Komunitas Film Independen (Konfiden) dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta untuk mengevaluasi ketersediaan dan kondisi kopi negatifnya di Sinematek. Pada waktu bersamaan, National Museum Singapore mulai mengontak L’Immagine Ritrovata, sebuah laboratorium restorasi film terkemuka di Bologna, Italia, demi mempersiapkan pemeriksaan film Lewat Djam Malam. Salah satu film yang juga pernah dipugar oleh L’Immagine Ritrovata adalah La Dolce Vita karya sutradara legendaris asal Italia, Federico Fellini.

Dengan restu keluarga Usmar Ismail, dimulailah restorasi negatif Lewat Djam Malam yang kemudian memakan waktu tujuh bulan dan lebih dari 2.500 jam reparasi digital sampai akhirnya selesai. Kopi negatif gambar dan suara Lewat Djam Malam sebenarnya lengkap namun beberapa di antaranya berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat penanganan yang keliru selama bertahun-tahun.

Gayung bersambut, pada Maret 2012, World Cinema Foundation yang didirikan sutradara ternama Martin Scorsese turut bergabung untuk membantu pembiayaan restorasi. “Film sekaliber Lewat Djam Malam patut ditonton dan diapresiasi oleh sebanyak-banyaknya penonton di dunia. Saya sangat percaya bahwa organisasi kami memiliki visi yang sama tentang pentingnya restorasi film dan berharap bahwa kami dapat mencapai persetujuan yang setara lewat kerja sama pada film ini,” ujar Douglas Laible selaku Direktur Operasional World Cinema Foundation seperti dikutip pada rilis pers mengenai restorasi Lewat Djam Malam.

Hasil restorasi Lewat Djam Malam yang rampung 90 persen diputar di National Museum of Singapore pada 28 Maret 2012 hanya untuk undangan. Pemutaran film tersebut dihadiri oleh 240 penonton dari kapasitas 247 kursi. Film itu bertindak sebagai pembuka program Merdeka! yang juga memutar dua film lain dari Usmar Ismail serta tiga film Garin Nugroho.

Dunia kemudian mulai menoleh ketika Lewat Djam Malam dipastikan tayang di festival film internasional Cannes dalam program Cannes Classics, yang khusus membawa film-film antik nan berpengaruh ke permukaan dengan kualitas gambar yang telah dipugar. Film-film lain yang diputar mencakup Once Upon a Time in America milik Sergio Leone dengan tambahan durasi 25 menit, Tess arahan Roman Polanski, Jaws garapan Steven Spielberg, hingga Lawrence of Arabia karya David Lean.

Lisa, salah satu perwakilan Lewat Djam Malam yang terbang ke Cannes, menceritakan bahwa ruang pemutaran di Cannes, Salle Buñuel, terisi hampir 300 orang. “Penonton Cannes nggak pandang bulu dan sangat tegas. Kalau mereka nggak suka, ya langsung pergi dari ruang pemutaran demi mengejar film-film lain. Lebih dari 80 persen penonton tinggal sampai selesai dan tepuk tangan. Orang-orang penting sinema dunia seperti sineas Amerika Serikat, Alexander Payne, dan kritikus senior Prancis, Pierre Rissient, memuji film ini,” ujarnya menceritakan.

Kabar gembira soal Lewat Djam Malam menyeruak dengan lekas ke tanah air. Maka tak heran pemutaran perdananya di Indonesia mendapatkan sambutan luar biasa dari 200 tamu undangan. Saat tulisan ini dibuat, Lewat Djam Malam bahkan telah ditonton oleh sekitar 2.800 penonton dengan sistem pemutaran keliling di bioskop besar Indonesia, 21Cineplex dan Blitz Megaplex. Lisa merespons fakta tersebut dengan bangga: “Di atas kertas, kami semua yang mengerjakan restorasi Lewat Djam Malam nggak mengira bahwa film ini bisa sampai ke bioskop dan mendapat tanggapan begitu antusias di Indonesia. Orang-orang dari luar Indonesia yang ikut mengerjakan restorasi film ini saja terkagum-kagum melihat kenekatan kami membuat pemutaran keliling di bioskop Indonesia.”

Memang ada kejadian beraura geram saat pemutaran perdana Lewat Djam Malam di Indonesia, yaitu ketika para tamu undangan menunjukkan kegemasan mereka terhadap alpanya dukungan pemerintah dengan bersorak mengolok Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ukus Kuswara, serta Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti. Teriakan seperti “Hidup Singapura!” dan “Janji ya mau mendukung?” berulang kali terdengar di ruang pertunjukan seusai pidato kedua perwakilan pemerintahan itu. Namun Kris justru mendukung respons seperti itu.

“Teman-teman kami dari Singapura kaget, bisa-bisanya perwakilan pemerintah diolok, tetapi saya rasa mereka layak diperlakukan seperti itu. Kami nggak dapat bantuan apa pun dari pemerintah. Bahkan untuk acara pemutaran malam itu, kami membiayai semuanya dengan dana sendiri,” tukas Kris yang lalu menunjuk Philip Cheah sebagai individu paling berjasa dalam restorasi Lewat Djam Malam.

Kris memang tidak mau menyebut Lewat Djam Malam sebagai film yang sempurna, namun itu tidak menghentikan Lisa dalam menganggap film tersebut sebagai pilihan yang sempurna untuk direstorasi. Alasannya? “Film ini diproduksi dalam konteks fasilitas produksi film yang minim, impian besar berbicara pada dunia dalam bahasa yang universal, trauma perang dan kebingungan dalam merintis hidup baru sebagai Indonesia. Skenarionya rapi, penyutradaraannya teliti, para pemerannya cemerlang, tata artistik dan musiknya juga orisinal sekali. Apalagi Lewat Djam Malam boleh dibilang mewakili gelombang baru pembuat film yang mulai mengutak-atik gagasan menjadi bangsa Indonesia,” jawab Lisa.

Ucapan Lisa seperti memantapkan apa yang pernah dikatakan Kris soal Usmar Ismail, bahwa beliau adalah sutradara Indonesia pertama yang menggunakan film sebagai pernyataan pribadi tanpa campur tangan produser dan, bahkan lebih dahsyat lagi, orang yang menetapkan tonggak estetika film Indonesia.

Kris lebih lanjut memuji sutradara kelahiran Bukittinggi 91 tahun silam tersebut: “Usmar termasuk orang yang bisa menangkap inti pemikiran peradaban Barat, yang disebut rasionalitas dan logika. Banyak orang Indonesia yang mendapat gelar Ph.D. di Amerika Serikat maupun Eropa, namun mereka tidak mampu meraih apa yang ditangkap Usmar.”

“Usmar juga merupakan tipe sutradara yang jarang ada di tanah air. Tema yang disajikan di Lewat Djam Malam memang sudah sangat biasa muncul di karya sastra Indonesia, namun di film tidak ada sama sekali. Film perang di Indonesia, bahkan sampai Tjoet Nja’ Dhien, menonjolkan romantisme heroik, tapi tidak dengan Lewat Djam Malam yang justru menunjukkan efek buruk peperangan,” sambungnya lagi.

Ide Lewat Djam Malam sendiri pertama kali timbul saat Djamaluddin Malik dari Perseroan Artis Republik Indonesia (Persari) dan Usmar Ismail dari Persatuan Film Nasional Indonesia (Perfini) menghadiri konferensi produser film Asia pada 1953 di Jepang. Sepanjang konferensi tersebut beredar wacana kalau Festival Film Asia pertama akan diadakan pada 1954 di Tokyo, Jepang. Djamal, nama panggilan Djamaluddin Malik, ingin turut serta mewakili Indonesia namun tidak punya film untuk dikirim. Usmar, yang sudah dua tahun mengambil jurusan film di University of California, Los Angeles (UCLA), pun diajak kerja sama dan diminta menggarap film yang bagus. Skenarionya ditulis oleh Asrul Sani, yang sebenarnya sempat berseteru dengan Usmar karena beda pendapat perihal sensor; Asrul mendukung, sementara Usmar menolak.

Lewat Djam Malam, yang dibuat dengan biaya produksi Rp300 ribu, akhirnya batal berangkat ke Jepang untuk mengikuti festival karena larangan pemerintah yang tentu saja memiliki agenda politik. Karena insiden ini, Djamal pun mengadakan Festival Film Indonesia pertama pada tahun 1955 di mana Lewat Djam Malam meraih empat trofi, masing-masing untuk Film Terbaik, Pemeran Pria Terbaik (A.N. Alcaff), Pemeran Wanita Terbaik (Dhalia), dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Bambang Hermanto).Satu dari sekian banyak harta karun budaya Indonesia telah diselamatkan, semoga ini baru permulaan. Masih banyak sinema tanah air klasik yang tersimpan di Sinematek, entah sudah berapa luas jamur yang melekat pada seluloid film di sana saat Anda membaca tulisan ini. Dengan kesuksesan restorasi Lewat Djam Malam ini, Kris berharap bahwa Sinematek secara keseluruhan dapat diselamatkan. Memang, tanpa ada referensi dan kajian serius terkait warisan budaya yang lalu, kesenian Indonesia tak akan mampu berkembang. “Sebagian masa lalu dan masa depan kita ada di sana,” katanya.

About the Author

Reno Nismara
-
Enam jahitan di kepala membuatnya percaya bahwa hidup penuh dengan sudut-sudut tajam. Salah satu pendiri kolektif kreatif Studiorama dan vokalis sekaligus pengocok tamborin untuk unit musik Crayola Eyes.
Share Article

Sign up for our monthly newsletter and get the best of Printscreen in your in-box

© copyright 2020 Printscreen