Digital Letter Drop #2: 0636 & Wijay – “Darurat 8×4”

by AldousJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Digital Letter Drop merupakan rubrik yang menampilkan pilihan musik (lagu, playlist, mixtape, dsb.), video musik, dan artwork yang kami terima secara digital. Kirim karya kalian lewat tombol di bawah untuk kesempatan dipamerkan di Printscreen. Aldous sudah siap siaga menyimak dan menyeleksi semua karya yang masuk.


0636 merilis EP bertajuk RUU: Rave untuk Umat. Teman mereka memilih satu lagu untuk dijadikan inspirasi dalam membuat artwork. Semuanya terjadi di Köln, Jerman.

Hajar dan Bimo (0636) menulis:
Dear Studiorama,

Sebelum pandemi terjadi, 0636 sendiri sebenarnya baru berdiri sekitar dua bulan. Kami terbentuk pada Januari 2020, sedangkan lockdown di Jerman dimulai sekitar Maret – April. Jadi sebenarnya kami belum punya banyak kegiatan. Baru pernah dua kali main di house party, satu di acara orang dan satu lagi di acara bikinan sendiri.

Kami justru mulai mengerjakan EP RUU: Rave untuk Umat setelah pandemi, bersamaan dengan bikin-bikin konten untuk di-post di internet, bikin live set, live stream, dan kami juga coba menghubungi kolektif-kolektif lokal karena banyak dari mereka yang sejak pandemi juga bikin konten online. Dengan begitu, kami jadi dapat kesempatan bikin set untuk kanal-kanal yang mereka punya.

Berawal dari iseng-iseng, kami juga sempat terhubung dengan anak-anak Indonesia di Berlin. Kami sempat main di house party dan acara bikinan kolektif sana.

Sebelum 0636 terbentuk, Hajar sudah belajar producing dari 2 – 3 tahun ke belakang; kemudian tertarik main hardware. Dari situ muncul ketertarikan untuk main techno secara live pakai hardware. Tapi kesulitan karena main sendirian, padahal ada banyak tombol dan knob yang mesti diputar. Akhirnya, dalam sebuah momen kehacepan, Hajar menawarkan Bimo untuk bantu. Apalagi Hajar dan Bimo sudah saling kenal sejak lama; Bimo pun punya minat ke techno.

Salah satu yang menjadi ciri khas dari sound 0636 ketika main live adalah kami suka melempar bebunyian atau suara-suara orang ngomong tidak jelas, di tengah-tengah lagi asyik main, yang kami temukan dari konten-konten internet. Omongan-omongan itu kalau didengar tanpa konteks jadi lucu banget dan itu kami padukan dengan ritme-ritme techno.

EP kami semacam perpanjangan dari konsep tersebut. Jadi selain musik yang enak dibawa berjoget, lagu-lagu ini bisa digunakan sebagai bahan tertawaan dan ada selipan komentar terhadap fenomena sosial juga.

Untuk lagu “Darurat 8×4” sendiri, kami bereksperimentasi dengan memberikan distorsi dan memanipulasi omongan yang kami sample. Jadi yang aslinya ngomong apa, bisa berubah jadi omongan lain.

Kami juga agak bereksperimentasi dengan penggunaan tangga nada yang diambil dari musik tradisional indonesia; bisa didengar di melodi bass yang jadi hook lagu. Kami pun memakai bunyi-bunyi perkusif yang bukan standar techno seperti 808 dan 909.

Sementara untuk artwork lagu ini, kami didukung oleh Wijay.

Wijay menulis:
Dear Studiorama,

Sebenarnya, yang gue bikin ini bukan artwork resmi, melainkan interpretasi pribadi terhadap lagunya. Di saat gue mulai ngulik Photoshop, Rebecca Rosandrina Baihaki bahkan sudah duluan bikin artwork untuk EP-nya. Gue bisa dibilang ngulik belakangan.

Artwork ini sendiri berawal dari perbincangan gue dan Hajar. Entah awalnya ngomongin apa, tapi akhirnya kami berdua tahu bahwa ternyata kata ‘darurat’ itu berasal dari bahasa Arab ‘darurah’. Dari situ lah gue berangkat mendesain artwork ini dengan tipografi Arab.

Selain itu, gue juga mengambil dari anekdot lagu yang bercerita soal kadal-kadal yang bertransformasi menjadi reptil haus kekuasaan. Jadi gue coba untuk mengulik tekstur yang menyerupai kulit reptil. Dari situ gue mulai kasih gradasi dan juga mengulik kombinasi warna.

Gue sendiri akhir-akhir ini ngulik software visual karena lagi gabut, dan bisa dibilang hoki juga karena baru dapat hard disk bekas laptop teman yang ada Photoshop-nya. Walau sebenarnya dari dulu gue sudah suka ngulik desain dan cari referensi. Tapi sepertinya baru sekarang mulai dapat mood untuk ngulik software-nya.

Teman-teman gue bilang kalau desain yang gue bikin itu punya rasa punk, tapi gue sendiri nggak merasa punk-punk banget juga haha. Gue suka kombinasi warna, karena seru dan penuh kejutan. Terlebih lagi, bisa dikulik nggak cuma lewat Photoshop, namun juga Cinema4D yang mungkin mulai banyak diulik orang.