On Paper: Leandro Quintero & Deby Sucha

by Yogha PrasiddhamuktiJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

On Paper adalah rubrik yang berangkat dari ide untuk mengombinasikan estetika zine cetak dengan media digital. Sebuah seri wawancara ringan bersama sosok-sosok yang diminta merekomendasikan dan berpendapat soal apa pun. Semua jawaban ditulis tangan langsung pada lembar kertas yang diberikan; menyajikan pengalaman dan karakteristik pribadi para narasumber. Kertas kemudian dipindai dan disajikan apa adanya ke dalam satu segmen utuh.

Dari sekian banyak nama di kancah seni visual dan fotografi dalam negeri saat ini, ada dua sosok yang sudah cukup lama menarik perhatian kami. Pertama adalah fotografer kelahiran Argentina, Leandro Quintero, dan satu lagi fotografer Indonesia yang sedang menetap di Tokyo, Jepang, Deby Sucha. Di samping karakter dan estetika mereka masing-masing, kesederhanaan dan rasa apa adanya yang muncul dalam karya fotografi mereka adalah daya tarik utama buat kami. Mudah untuk menyukai jepretan Leandro dan Deby dari pandangan pertama.

Kami pun terdorong untuk mengenali mereka lebih jauh; sedikit menggali apa yang ada di dalam kepala keduanya. Kebetulan Leandro dan Deby mengadakan pameran bersama dengan tajuk Convergent di Sunset Limited, Jakarta pada Maret lalu. Tanpa pikir panjang, kami beranjak mampir untuk sekalian meminta mereka meladeni pertanyaan dan menggelontorkan rekomendasi mengenai beberapa hal. Berikut adalah yang kami dapatkan.

Deby Sucha

Apa hal pertama yang elo pikirkan ketika bangun tidur?
Hal-hal yang gue syukuri, termasuk kopi.

Kalau elo harus memotret sesuatu tepat setelah bangun tidur, apa yang akan elo potret dan kenapa?
Jendela gue. Pemandangan yang bisa dilihat dari jendela gue. Pasti selalu ada sesuatu yang berbeda yang terjadi setiap hari, walaupun lokasinya sama.

Seperti apa hari-hari elo biasanya?
Kopi, kopi, kopi, yoga, kopi, lari, kopi, meditasi, mandi, baca, makan siang, kerja, motret, baca, masak, makan malam, meditasi, tidur.

Kalau elo bukan seorang fotografer sekarang, kira-kira apa profesi yang akan elo ambil?
Koki.

Apakah fotografi merupakan cinta pertama elo atau malah hal lain?
Gue sedang jatuh cinta dengan fotografi saat ini. Gue bisa saja jatuh cinta dengan hal lain di masa depan dan semua itu membantu gue dalam berkembang.

Apa yang menginspirasi elo untuk menjadi fotografer?
Ide untuk mengabadikan momen dan kenangan. Kemampuan untuk memahami lingkungan yang ada di sekitar gue dan membuat dunia gue sendiri lewat fotografi. Fotografi membantu gue untuk melihat dunia.

Apa yang menginspirasi elo akhir-akhir ini?
K.E.B.E.R.A.G.A.M.A.N.

Siapa orang yang menginspirasi Anda sebagai manusia? 
Keluarga dan teman-teman adalah inspirasi langsung buat gue.

Apa momen yang mengubah hidup elo?
Hari ketika gue pindah ke Jepang pada 2013.

Rekomendasikan tiga hal untuk didengar, ditonton, dibaca, atau apa pun.
Pepino – “Wake Up” dari album Aria
I Heard God Laughing: Renderings of Hafiz oleh Daniel Ladinsky
Melihat diri elo sendiri di cermin selama satu menit

Kalau elo diminta memilih satu fotografer untuk memotret hidup elo, siapa yang akan elo pilih?
Robert Mapplethorpe atau Nan Goldin.

Apa saran yang akan elo berikan ke orang-orang di sekitar elo?
Dengan segala kerumitan dunia yang kita tinggali, ada banyak cara untuk menjalani hidup dan tidak ada yang lebih benar dibanding yang lainnya. Lebih penting kita menyadari bahwa kita sama-sama manusia dibanding mengungkit perbedaan.

Coba buat gambar yang merepresentasikan apa yang elo pikirkan soal diri sendiri.
(gambar)

Leandro Quintero

Apa hal pertama yang elo pikirkan ketika bangun tidur?
Kopi dan lari pagi.

Kalau elo harus memotret sesuatu tepat setelah bangun tidur, apa yang akan elo potret dan kenapa?
Gue sih memang suka memotret sesuatu dari tempat tidur dan mendokumentasikan aktivitas gue seharian.

Seperti apa hari-hari elo biasanya?
Sama seperti orang kelas menengah lain yang sedang berjuang dalam biang dari segala perang: berusaha menyelamatkan diri dari neoliberalisme 3.0.

Kalau elo bukan seorang fotografer sekarang, kira-kira apa profesi yang akan elo ambil?
Apa pun yang berhubungan dengan seni dan, secara umum, gambar. Antara itu atau menjadi seorang kriminal.

Apakah fotografi merupakan cinta pertama elo atau malah hal lain?
Dari dulu gue adalah orang yang hedonistik, makanya selalu ada lebih dari satu hal yang gue suka. Tapi cinta pertama gue adalah puisi.

Apa yang menginspirasi elo untuk menjadi fotografer?
Membangun jembatan, menghidupkan zona-zona mati di dalam manusia lain yang ada di dunia zombi ini.

Apa yang menginspirasi elo akhir-akhir ini?
Perjuangan untuk hidup.

Siapa orang yang menginspirasi Anda sebagai manusia? 
Filsuf Argentina, Leonor Silvestri
Ibu gue, selalu
Brad Feuerhelm

Apa momen yang mengubah hidup elo?
Awal dekade ‘90-an ketika gue menyikat ekstasi untuk pertama kalinya.

Rekomendasikan tiga hal untuk didengar, ditonton, dibaca, atau apa pun.
Collected Poems oleh Adrienne Rich
Driven to Abstraction oleh Rosmarie Waldrop
Apa pun dari Godard dan Brian Eno

Kalau elo diminta memilih satu fotografer untuk memotret hidup elo, siapa yang akan elo pilih?
Fotografer perempuan, tentunya: Diane Arbus. Eggleston nggak jago bikin portrait. Begitu juga dengan Cartier-Bresson.

Apa saran yang akan elo berikan ke orang-orang di sekitar elo?
Jadilah pribadi yang jujur, tulus, dan berpikiran terbuka.

Coba buat gambar yang merepresentasikan apa yang elo pikirkan soal diri sendiri.
(gambar)

About the Author

Yogha Prasiddhamukti
-
Gemar ngobrol ngalor-ngidul (dan mewawancarai orang-orang) berkat pengalamannya menjadi reporter, editor, serta penulis lepas untuk beberapa media musik selama satu dekade terakhir. Pemilik selera humor yang agak kering ini juga adalah pendiri label rekaman Winona Tapes, disjoki paruh waktu, dan personel band pop/rock alternatif antar kota bernama Skandal.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen