Rochi Membumi

by Reno NismaraJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Hasil wawancara dengan Rochi Putiray, ikon sepak bola Indonesia yang dikenal berbahaya bagi pertahanan lawan serta penuh gaya di dalam dan luar lapangan.

Foto oleh Hilarius Jason

Berjumpa dengan Rochi Putiray adalah soal pemenuhan ekspektasi. Membuktikan langsung kharisma dan pribadi eksentrik yang membuat ia disegani pemain lawan serta diidolai penggila sepak bola Indonesia, bahkan Asia, di sepanjang tiga dekade kariernya.

Dengan rambut terkuncir, kacamata hitam bundar berbingkai setengah, dan, tentunya, sepatu beda warna kanan-kiri, Rochi mencuat di kerumunan; mencuri perhatian nyaris semua orang yang berpapasan dengannya di kawasan Blok A pada akhir 2020 lalu.

Kondisi serupa juga terjadi saat ia masih beraksi di lapangan hijau. Sebagai penonton, langsung di stadion atau via televisi sekalipun, mudah untuk menunjuk di mana Rochi berada karena tampilannya yang mencolok — bahkan pada saat itu, rambutnya kerap berganti warna. Meski pergerakannya jadi mudah dideteksi, bukan berarti pemain lawan bisa menghadangnya. Terbukti, Rochi senantiasa tajam merobek gawang, baik itu untuk Arseto Solo, Persija, maupun Kitchee SC (Hong Kong), di antaranya dua gol pada pertandingan klasik melawan AC Milan yang saat itu diperkuat bek legendaris Paolo Maldini.

“Penampilan nyentrik ini sebetulnya upaya saya untuk memotivasi diri,” ungkap Rochi, yang mengaku terinspirasi gaya dari karakter John Banting selaku maskot detergen Daia, kepada Printscreen. “Waktu itu saya mulai bosan, tidak ada motivasi, karena selalu terpilih masuk tim. Tidak ada tantangannya. Jadi saya cat rambut warna-warni supaya semacam terpaksa mempertanggungjawabkan gaya, supaya nggak sekadar gaya.”

Kini, Rochi menghabiskan banyak waktunya melatih. Ia memiliki akademi R21 di Solo, membina SSB Gelora Putra di Jakarta, mengasuh tim sepak bola senang-senang Jakarta 69, dan terutama menjadi pelatih Waana Bintuka FC (WBFC), klub Papua muda — saat ini berstatus U-16 — yang berbasis di Bandung.

Klub tersebut keluar sebagai juara 3 pada turnamen internasional IberCup 2019 di Portugal — waktu itu memakai nama Timnas Pelajar U-16 Kemenpora (“Padahal tidak ada sepeser pun dana dari Kemenpora,” kata Rochi) — dan berhak mengikuti gelaran berikutnya pada level yang lebih tinggi; mendapat kesempatan bertanding melawan akademi Paris Saint-Germain, Barcelona, Real Madrid, dan Manchester United. Namun sayangnya, seperti nasib jutaan rencana di dunia dalam setahun belakangan, terpaksa dibatalkan akibat pandemi.

Rochi mencintai WBFC secara tulus. Ia terdengar sangat bersyukur terhadap orang-orang yang mengelola klub, berterima kasih akan kesempatan yang didapat. “Saya diminta manajemen untuk upgrade semua ilmu kepelatihan, ikut yang online juga. Isi pengetahuan dengan sepak bola modern supaya anak-anak bisa semakin hebat. Saya diajari bahwa kalau mau bantu orang banyak, saya juga harus punya bekal banyak,” terang Rochi antusias.

WBFC jugalah yang membuat Rochi merasa menjadi manusia yang lebih baik. Ia menjelaskan, “Hanya dalam satu tahun melatih, saya mendapat pelajaran sepuluh kali lipat lebih banyak dibanding saat menjadi pemain di sepanjang 1987 sampai 2018.”

Tidak heran, pembawaannya begitu tenang selama wawancara (dijalankan seusai pemotretan memeragai jersey kolaborasi antara Studiorama, Table Six, dan Casual Fan Club), di mana Rochi membuka diri berbicara soal beragam hal, dari masa kecilnya di Ambon, penyesalannya sebagai pesepakbola, hingga rasisme.

Foto oleh Hilarius Jason

“Keluarga mendidik saya untuk jadi religius sekaligus melatih saya dalam menjadi pesepakbola. Ayah saya pernah mewakili tim PON Ambon di Solo, sementara kakak saya sempat bermain untuk Suryanaga Surabaya dan NIAC Mitra. Kami bahkan punya tim keluarga, namanya Putiray Brothers. Isinya keluarga kandung — sembilan laki-laki dan lima perempuan — ditambah saudara sepupu. Kami sering sekali berebutan, dari soal posisi bermain sampai nomor punggung. Jadi mikirin sendiri-sendiri saja. Itu ternyata melatih saya untuk menjadi pesepakbola yang tidak pernah terbebani dan tidak mempunyai rasa takut. Misalkan saat bertanding melawan pemain-pemain senior Ambon: dia hantam, saya hantam.

Lingkungan sekitar juga mempengaruhi ketertarikan saya terhadap sepak bola. Di Ambon, pertandingan olahraga apapun dibikin tujuh hari tujuh malam, mau itu sepak bola ataupun tarik tambang. Tapi kalau sudah hari final, cabang selain sepak bola pasti kosong penonton; semua lari nonton final sepak bola.

Saya juga sempat main basket, sampai dipanggil seleksi klub di Ragunan. Itu karena dulu di sekolah saya, SMP Xaverius, rata-rata muridnya adalah Tionghoa. Olahraga favorit mereka itu basket. Mau nggak mau jadi sering main basket. Perjalanan hidup saya yang bikin saya belajar bahwa adaptasi itu penting, dan ternyata pesepakbola Indonesia itu paling sulit beradaptasi. Egy (Maulana Vikri) yang lagi bermain di Polandia, misalnya. Kalau dia bisa beradaptasi, dia pasti sukses. Itu yang saya alami di SMP Xaverius. Yang ada cuma basket, ya saya bisa apa? Mau maksa mereka main bola? Waktu itu nggak ada Tionghoa yang mau main bola.

Sampai akhirnya ada pertandingan antar SMA, kami ikutan walau masih SMP. Ternyata juara tiga. Saya jadi pemain terbaik dan dipanggil seleksi di Ragunan. Pada waktu yang bersamaan, saya juga dipanggil seleksi sepak bola PSSI Garuda 2. Saya ambil yang sepak bola.”

“Perbedaan Rochi Putiray dulu saat masih menjadi pesepakbola dengan Rochi Putiray sekarang sepertinya cuma di umur. Saya masih senang main bola. Secara atmosfer pertandingan juga tidak berbeda, masyarakat masih antusias menonton. Oh, satu lagi bedanya: sekarang saya lebih bisa mengatur emosi karena sebagai pelatih, saya jadi panutan buat para pemain.

Saat masih menjadi pemain, saya paling gampang emosi. Seringnya terhadap pemain asing, yang selalu mendapat dispensasi dari klub atau wasit. Pada saat pemain Indonesia protes dan bilang, ‘Wasit bodoh!,’ itu sudah dapat kartu. Tapi kalau pemain asing bilang, ‘You stupid idiot!,’ mereka nggak dapat kartu. Itu bikin emosi. Tapi tidak pernah ada dendam ya. Argumen dalam lapangan itu biasa terjadi. Tapi walaupun paling gampang emosi, saya cuma pernah dapat dua kali kartu sampai saya pensiun.”

Foto oleh Hilarius Jason

“Saya selalu bangun jam 5 pagi. Anak-anak latihan dari jam 6 sampai 8. Kalau masih merasa kurang, siangnya saya fitness. Kemudian jam 4 sampai 6 sore latihan lagi sama anak-anak. Malamnya istirahat di basecamp sama anak-anak.

Waktu zaman saya main, tidak ada satu pun kegiatan rohani di tim. Sekarang saya dan manajemen WBFC bikin. Jadi setiap jam 8 atau 9 malam, kami ibadah setiap hari. Yang muslim di atas, yang Nasrani di bawah.”

“Saya mudah termotivasi. Ketika saya menyadari pemain lain punya suatu kelebihan, saya merasa harus bisa juga mempunyai kelebihan itu. Bukan berarti menjadi persis seperti pemain itu, tapi paling tidak saya juga punya apa yang dia miliki. Namun di sisi lain, saya juga merasa harus punya kelebihan yang pemain lain tidak bisa miliki. Jadi kalau pemain lain bisa, saya juga harus bisa. Tapi kemampuan saya, pemain lain tidak mungkin bisa.

Contohnya seperti determinasi saya dalam menyambut bola-bola tanggung, yang bikin saya dijuluki ‘Goalkeeper Killer’ di Hong Kong. Sempat keluar juga gosip di sini kalau saya pakai susuk. Setiap ada benturan sama saya, kiper pasti langsung diganti. Dan itu tidak pelanggaran lho.”

“Banyak orang bilang kalau gol saya lawan AC Milan itu yang paling mengasyikkan, tapi yang paling berkesan buat saya pribadi datang dari pertandingan skala internasional pertama saya. Waktu itu dalam rangka King’s Cup di Thailand, lawan Kenya.

Saya dapat umpan dari bek kiri Abdul Nuru Lestaluhu. Dia kasih umpan pakai kaki luar dari jarak 25 meter ke arah gawang. Saya lari, lompat melampaui bek Kenya yang tinggi-tinggi, dan heading dari luar kotak penalti. Padahal saya cuma setinggi dada pemain lawan. Bolanya masuk ke pojok gawang. Saya nggak bakal lupa itu.”

“Sepanjang karier saya sebagai pesepakbola, tim Indonesia paling profesional, dan mungkin satu-satunya, adalah Mitra Kukar. Kebetulan manajernya waktu itu, Bang Hendri, menonton pertandingan Kitchee lawan AC Milan — di mana saya mencetak dua gol — langsung di Hong Kong. Dia menghampiri saya, ‘Bang Rochi, saya lagi pegang tim. Nanti kalau Abang pulang ke Indonesia, main di tempat saya ya.’

Kemudian benar, dia langsung menghubungi saat saya pulang ke Indonesia sekitar tahun 2004 atau 2005. Saya pun main di Mitra Kukar. Waktu itu saya tanda tangan kontrak jam 10 pagi. Lumayan besarlah nilainya, mungkin paling besar di Indonesia pada saat itu. Jam 12 siangnya sudah masuk rekening tanpa potongan sama sekali. Itu pertama kali saya dapat.”

“Penonton paling asyik yang pernah saya dapat itu di Solo. Saya suka sekali naik becak di Solo. Waktu itu pernah, habis Arseto kalah, saya ditanya pengemudi becaknya, ‘Mas Rochi piye toh kok kalah? Aku ra nyambut gawe lho, aku ra ndayung becak lho, arep nonton kowe main bal-balan. Tapi rapopo, Mas. Sesuk menangke.’

Kalimat-kalimat itu bikin termotivasi. Dan kadang mereka memang sampai nggak narik becak demi nonton Arseto main. Itu yang saya nggak dapat di Makassar, di Jakarta juga nggak begitu. Saya justru dapat itu di Solo.”

“Saya pernah diundang seleksi Auxerre, namun kesempatan itu saya buang. Waktu itu saya umur 24 tahun, ikut seleksi dengan pemain-pemain berumur 15 sampai 17 tahun. Saya latihan dengan Taribo West. Latihan mereka luar biasa. Saya jadi bisa tahu bahwa pemain Indonesia kalah bukan di skill, tapi di mental dan karakter. Jadi pada saat mental nggak siap, adaptasi nggak siap, karakter jadi nggak kuat.

Nah, pada saat itu, pihak Auxerre bilang ke saya: ‘Kami rugi kalau mengontrak kamu yang umurnya sudah 24 tahun. Masa emas kamu tinggal tiga tahun lagi, sampai umur 27 tahun. Mentok-mentok masa emas kamu sampai umur 30 tahun. Kami rugi. Kamu lihat pemain-pemain muda di sini, kami kontrak dari umur 15 tahun.’ Jadi paling tidak si klub dapat tenaga — misalkan pemain tidak pindah sampai umur 25 tahun — hingga sepuluh tahun. Saat pemain itu tidak dibutuhkan lagi, nilai transfernya memang tidak besar. Yang penting bisa mengembalikan duit yang dikeluarkan untuk pemain tersebut. Itu hitungan mereka secara bisnis. Jadi mereka dapat pemain, dapat tenaga, dan secara duit tidak rugi.

Pihak Auxerre kemudian berkata: ‘Kalau kamu mau bermain di Liga 2, kami bisa memasukkan kamu ke klub, kamu langsung main.’ Respons saya, ‘Tidak, saya mau pulang.’ Itu sebuah keputusan salah yang saya ambil.

Jadi saya bisa pergi ke Auxerre karena bantuan dari ANTV. Waktu itu saya main lawan timnas Malaysia di Surabaya. Pelatih timnas Malaysia waktu itu orang Prancis, teman dari pelatih Auxerre. Kemudian di saat bersamaan ada kontes acara televisi internasional juga; mereka minta rekomendasi dari ANTV dan ANTV kasih lihat video saya bermain. Ternyata mereka mau, jadi saya berangkat berkat ANTV. Ketika sudah di sana, saya membatin: ‘Kalau saya nggak lolos, berarti ANTV nggak urus. Siapa yang urus saya?’ Jadi saya pikir, ya sudah, pulang saja. Padahal selama di sana, saya dapat hampir 10 ribu Dollar per minggu. Akhirnya pulang, balik main di Solo, menyesal.

Beberapa tahun kemudian, Indonesia ketemu Hong Kong untuk Pra-Piala Asia. Saat main di sana, skornya 1-1, saya bikin gol. Saat main sini, kami hantam mereka 4-1, saya bikin tiga gol. Seminggu kemudian, saya ketemu dengan Dejan Antonic — pemain Instant-Dict — dan ngobrol untuk diajak main di sana. Saya pun berangkat ke Hong Kong. Saya langsung terima tawaran main di sana supaya nggak menyesal lagi. Saya terus main di Hong Kong sampai ketemu masalah internal yang bikin saya pulang ke Indonesia. Kalau nggak ada masalah internal itu, saya nggak bakal pulang. Masalah internal alias masalah dengan perempuan yang waktu itu jadi pacar saya [tertawa]. Saya pergi ke Hong Kong dengan dia.

Perempuan itu — pendidikan terakhirnya S2 — dapat kerjaan dari manajemen Kitchee sebagai upaya mempertahankan saya di sana. Suatu waktu, kami argumen, ada satu kalimat yang keluar dari mulut dia: ‘Yang harusnya dapat gaji gede itu gue, bukan elo, karena gue S2!’ Dua minggu kemudian, Kitchee menawarkan saya perpanjangan kontrak. Tapi saya nggak mau, memilih pulang. Setelah itu, saya nggak pernah balik main lagi di Hong Kong. Pihak Kitchee berulang kali menelepon untuk meminta saya balik, perpanjang kontrak, tapi saya nggak mau. Itu kesalahan kedua yang saya bikin sebenarnya, setelah Auxerre.”

“Waktu itu, kontrak saya habis di Persija dan saya mestinya pindah ke Ujung Pandang. Tapi nggak dikasih, diminta untuk tetap di Persija. Saya sampai diundang datang ke kantor Gubernur DKI; duduk dengan Pak Sutiyoso, Pak Amadin yang mengurus pendanaan Persija, dan Pak Aang Suganda yang sempat jadi Bupati Kuningan. Kami duduk berempat untuk memperpanjang kontrak saya di Persija. Deal di sana, sudah salaman.

Keluar dari kantor Pak Gubernur, tiba-tiba Pak Aang telepon: ‘Rochi, kita besok ketemu di Plaza Indonesia jam 10 pagi ya.’ Padahal sorenya itu Persija sudah ada pertandingan pertama. Saya pikir sudah deal, tinggal tanda tangan, saya sudah bisa masuk mes. Ternyata dia masih ada negosiasi lagi. Saya bilang, ‘Pak, bukannya kemarin kita sudah deal?” Dia jawab, ‘Iya, tapi Persija tidak sanggup bayar kamu full. 50 persennya bayar di bawah meja saja.’ Maksudnya di bawah meja seperti apa, saya nggak tahu. Dia menjelaskan, ‘Jadi begini, Rochi: kalau kamu punya kontrak Rp300 juta dan gaji Rp50 juta, kami cuma bayar Rp150 juta dan Rp25 juta. Sisanya kamu terima di bawah meja. Kamu terima dulu kontrak yang ini, kami tidak tulis total nilai kontraknya.’ Saya balas, ‘Nah, terus nanti kalau Bapak tidak bayar, saya bisa menuntut bagaimana kalau ternyata nilai kontrak saya berbeda? Nggak bisa begini, saya nggak mau. Pokoknya kita sudah deal dengan Pak Sutiyoso, itu yang saya terima. Kalau nggak mau, ya sudah.’

Ternyata, Pak Aang punya kerja sama dengan agen Bambang Pamungkas, namanya Nirwan Suwarso. Itu pertama kalinya Bambang masuk Persija. Waktu itu, saya lagi solid-solidnya dengan Widodo (Cahyono Putro, striker Persija). Untuk menggeser saya, Bambang tidak mungkin dapat tempat dengan cepat. Dia memang pemain yang bagus, tapi perlu adaptasi dulu dengan saya dan Widodo. Supaya Bambang dapat tempat, salah satu harus keluar. Widodo sudah tanda tangan kontrak, saya yang belum karena baru dari skuad timnas. Akhirnya saya nggak jadi deal dengan Persija.

Pulang dari Plaza Indonesia, saya ke Lebak Bulus untuk menonton pertandingan Persija. Di sana ada Pak Sutiyoso, Pak Amadin, dan Pak Aang. Lalu Pak Sutiyoso bertanya, ‘Kamu ke sini kenapa tidak main?’ Saya ceritakan ke dia bahwa kontrak saya belum beres. Wah, Pak Sutiyoso langsung ngamuk di VIP Lebak Bulus. Saya kemudian bilang nggak mau lagi di Persija. Saya mau pindah, tapi saya nggak dikasih surat keluar. Akhirnya saya dipindah ke Persija Timur dengan status pinjaman durasi satu tahun.”

“Dari saat bermain pun saya sudah suka membantu pemain muda, baik di Indonesia maupun waktu main di Hong Kong. Kalau mereka ada potensi, saya ajak latihan terus. Contohnya Syamsul Chaeruddin dan Hamka Hamzah sewaktu kami satu tim di PSM.

Ada tipe pemain senior yang suka menjatuhkan pemain muda, suka sesumbar: ‘Kamu mau ke mana? Tidak usah latihan ke mana-mana. Kamu masih muda. Line up sudah penuh. Tunggu saya pensiun saja, baru kamu masuk.’ Saya ajari Syamsul dan Hamka untuk jawab, ‘Saya mau masuk starting line up.’ Saya ajak mereka untuk tambah latihan.

Pelatih melihat pemain muda itu punya tenaga tapi nggak ada pengalaman. Taktik dan cara bermainnya masih minim. Makanya yang diandalkan jadinya pemain senior. Sementara pemain senior itu rata-rata sudah malas latihan, merasa sudah aman posisinya. Jadi saya suka bantu pemain muda supaya bisa meningkatkan kemampuan. Toh saat nanti mereka main, pada saat yang muda ini punya tenaga dan cara bermain yang bagus, timnya juga yang tertolong.

Kemudian terbukti kan, Syamsul dan Hamka masuk timnas. Jadi memang sudah natural saja, ketika pensiun saya jadi punya akademi, SSB, melatih WBFC, melatih tim perempuan Jakarta 69.”

“Manajemen tim ini — dipimpin oleh Bung Ray Manurung, orang Medan Tionghoa yang lahir di Papua — melayani pemainnya bukan sebagai pesepakbola, tapi sebagai anak-anaknya sendiri. Mereka paham bahwa pemain usia dini butuh banyak sekali perhatian.

Saya selalu bilang bahwa umur 8 sampai 13 tahun adalah masa senang. Umur 13 sampai 16 tahun adalah masa di mana mereka sudah mesti menentukan langkah mau ke mana. Nah, umur 16 ke 17 adalah masa akil balig, masa-masa paling krusial. Jika tidak bisa bikin program dengan benar, maka tidak akan bisa mendidik anak-anak dengan benar. Masuk SMA, selesai anak-anak itu. Mereka tidak akan tahu lagi main bola itu seperti apa, karena sudah tahu nongkrong, rokok, perempuan; walau sebenarnya itu kenakalan yang wajar kalau kita bisa mengarahkan mereka dengan benar.

Wacananya bukan hanya mau menjadikan anak-anak sebagai pemain profesional, tetapi juga harus punya karakter yang berbeda. Kalau kami ikut turnamen, lalu juara, tapi ada satu kartu kuning, itu sudah tidak sah. Jadi memang mau mengajari cara hidup. Bahkan Bung Ray juga mengajari anak-anak soal komputer, istrinya mengajari bahasa Inggris, iparnya mengajari cara bikin mie ayam.

Misi manajemen sebenarnya mau membuat orang Timur, terutama masyarakat Papua, menjadi individu-individu yang berbeda. Masyarakat yang takut akan Tuhan, yang punya talenta luar biasa, dan juga otak yang terasah dengan benar. Kami bilang ke anak-anak bahwa mereka harus jadi batu penjuru buat saudara-saudara lain yang ada di balik gunung sana.

Kontrak yang ditawarkan manajemen kepada anak-anak juga sangat menarik, bisa dibandingkan dengan apa yang ditawarkan oleh klub-klub profesional, terutama dari Elite Pro selaku akademi yang dikelola PSSI. Setidaknya ada tiga klausul dari WBFC yang layak di-highlight.

Satu, kalau seorang pemain pensiun jadi pesepakbola profesional, maka dia akan punya rumah. Dua, kalau seorang pemain sakit atau cedera sampai tidak bisa main bola lagi, maka dia akan ditampung di perusahaan Bung Ray. Tiga, tim ini bukan tim sepak bola, tapi tim keluarga. Apa pun yang terjadi, tidak akan dipulangkan atau dicoret. Tim ini pun jadi sangat solid.

Saya juga banyak berubah karena Bung Ray. Saya diajari untuk lebih banyak mengalah, untuk lebih banyak bersabar, untuk jadi lebih dewasa, untuk mengurangi arogansi. Saya sebenarnya bukan tipe orang yang bisa mengalah, dan ini bisa berubah karena manajemen yang luar biasa.

Contoh: saya bikin aturan yang cukup keras di mana kalau pemain melakukan pelanggaran yang tidak perlu, pemain itu akan dipulangkan. Tapi Bung Ray malah mempertanyakan: ‘Kalau kita pulangkan yang ini, apakah yang baru lebih baik dari yang lama? Apakah kita punya waktu untuk membentuk yang baru seperti yang lama? Apa yang akan terjadi dengan anak ini saat dia pulang? Apa kita tidak punya tanggung jawab moral?’

Jujur, awalnya saya pusing setengah mati. Karena itu bertentangan dengan prinsip saya. Tapi saya memutuskan mundur satu langkah untuk mengikuti dulu apa yang manajer mau. Ternyata kemajuannya pesat, anak-anak jadi lebih disiplin dan punya attitude yang benar. Dari situ saya sadar kalau hukuman belum tentu bikin orang jadi lebih baik. Nggak mungkin mereka sempurna, akan ada kesalahan-kesalahan baru; dan itulah yang diperbaiki terus.”

“Sekarang para pemain muda punya lebih banyak kesempatan untuk bermain lewat inisiatif-inisiatif seperti Garuda Select. Tapi kalau perubahan cara bermain sih tidak ada. Karena memang dari federasinya sendiri tidak memprogramkan itu dengan baik. Pembinaan usia dini, kompetisi usia dini, tidak ada yang berjalan dengan lancar. Itu yang membuat perkembangan sepak bola kita mundur, karena hal-hal terkait usia dini tidak berjalan dengan baik.

Pembinaan usia dini akan benar kalau kepalanya — Ketua PSSI-nya — benar. Saya punya satu filosofi: kalau kepalanya baik, leher, badan, dan ekor pasti baik. Jadi semua dari kepala. Siapa pun yang duduk di situ harus bisa nggak mikirin cari duit untuk dirinya sendiri. Asalkan syarat itu terpenuhi, siapa saja bisa bikin sepak bola kita jadi lebih baik.”

“Ada banyak talenta di sana. Saya bahkan baru menyadari setelah jadi pelatih: kalau kita menyeleksi 100 anak dari Indonesia Timur — Papua, Ambon, dan sebagainya — dengan persyaratan talenta, skill, kecepatan, dan daya tahan, pasti 80 persen dari mereka punya itu semua. Jadi hanya 20 persen yang tidak punya. Tapi kalau kita seleksi 100 anak dari Indonesia Barat dan Tengah, paling hanya 5 sampai 10 persen yang punya itu.

Tapi ada juga yang namanya mental dan karakter yang harus dibentuk. Tuhan kasih mereka otak, tapi banyak yang tidak memakainya secara maksimal. Jadinya melakukan apa yang mereka mau, bukan yang mereka butuh. Misalkan, ‘Oh, saya mau bir.’ Jadi mentalnya, ‘Apa pun yang terjadi, pokoknya saya mau minum bir.’ Itu di Indonesia Timur. Kelemahan terbesarnya seperti itu, dan itulah PR saya saat ini dalam melatih.

Kebetulan manajemen kami tidak hanya mengajari bagaimana bermain bola. Kalau kamu pintar main bola, tanpa pelatih juga kamu bisa. Tapi yang dilihat itu dedikasi, attitude, mental, karakter; jadi cara berpikir supaya tidak minder, tidak malu, dan bagaimana caranya bisa melakukan lebih banyak hal-hal positif dibanding negatif.”

“Saya bangga menjadi orang Timur. Pastinya. Saya sadar betul kalau Timur diberkati banyak sekali. Jadi saat menghadapi suporter lawan yang rasis, saya santai, nggak emosi. Saya pernah diteriaki, ‘Eh, monyet! Main saja, jangan banyak gaya!’ Pernah dilempari pisang ke lapangan, saya malah ambil dan makan. Lama-lama mereka jadi simpati sendiri.

Ketika saya sudah bergabung dengan Persija, saya sempat main lawan Persib di Bandung. Waktu pemanasan, bolanya sempat ke area penonton. Nggak ada penonton yang mau bantu ambil. Jadi saya yang ambil bola, perlu naik pagar dulu. Terus saya dilempari minuman, Aqua masih utuh, ya sudah saya minum saja.

Nah, tapi saat kami bermain bagus, kami menang, suporter lawan mengakui kok. Setelah itu kami jalan-jalan di mal, ketemu dengan mereka. Mereka mendatangi saya dan bilang, ‘Abang bagus mainnya kemarin. Maaf ya, Bang.’ Saya sih nggak apa-apa, mereka penonton yang bayar tiket.”

About the Author

Reno Nismara
-
Enam jahitan di kepala membuatnya percaya bahwa hidup penuh dengan sudut-sudut tajam. Salah satu pendiri kolektif kreatif Studiorama dan vokalis sekaligus pengocok tamborin untuk unit musik Crayola Eyes.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen