Sebuah Obrolan Santai bersama Ardneks

by Yogha PrasiddhamuktiJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Kendra Ahimsa alias Ardneks di kenyamanan rumahnya.

Kendra Ahimsa, dikenal dengan pseudonim Ardneks, adalah teman dekat dan sosok familier bagi kami. Sedikit retrospeksi: Ardneks merupakan bagian penting dalam perjalanan Studiorama sejak didirikan satu dekade silam. Tangan ajaibnya banyak menghasilkan karya untuk Studiorama, dari ragam poster acara hingga sejumlah merchandise, termasuk yang baru saja kami rilis.

Kami cukup beruntung bisa mengenalnya dengan baik dan melihat dari dekat bagaimana karyanya berkembang dari waktu ke waktu sampai menjadi seniman yang dikenal atas kekhasan karyanya. Bahkan, dengan bangga kami mengakui bahwa identitas visual Studiorama terbentuk dari karya-karya yang dibuat Arneks. Sebagai teman, dia adalah sosok yang sangat membumi dengan selera humor menyenangkan.

Beberapa waktu lalu kami sempat menghubunginya — setelah lama tidak berbincang tatap muka akibat pandemi. Hal ini selalu menyenangkan bagi kami. Bagian terbaik dari catch up dengan teman, selain mengetahui keadaan terkini dan mendapatkan mereka dalam kondisi yang baik, adalah menemukan hal-hal baru dalam kehidupannya. Itulah yang terjadi ketika kami berjumpa dengan Ardneks.

Jika kalian menggemari karya-karya Ardneks sekaligus penasaran apa yang membuatnya jadi seniman, sedikit hal soal hidupnya saat ini, hingga topik-topik yang jarang diketahui orang soal dirinya, maka obrolan ini ditujukan untuk kalian.

Sebagian besar karya yang elo kerjakan berhubungan dengan musik. Apa saja proyek yang sedang elo kerjakan sekarang?
Iya, kebanyakan proyek gue memang music-related; mungkin karena itu tujuan gue berkarya dari awal, jadi ya sekarang gue bersyukur banget. Sekarang lagi ada empat proyek yang gue kerjakan. Yang pertama, untuk album terbaru Night Beats, band psychedelic rock asal Amerika Serikat. Gila sih ini, mereka salah satu band yang gue dengar dari zaman kuliah. Yang kedua, Deap Vally, band rock Amerika Serikat yang dimotori dua perempuan. Kebetulan gue kenal drummer-nya [Julie Edwards], salah satu founder festival musik Desert Daze. Jadi gue sempat bikin poster buat Desert Daze, terus gue malah jadi di-approach untuk buat artwork bandnya. Yang ketiga, Ko Shin Moon, band asal Prancis. Pas gue dikasih dengar lagu-lagu dari album mereka, gue mindblown banget. Referensi musik mereka mulai dari Lebanon, Arab, India, sampai Indonesia. Mereka ini memang traveler dan passionate mempelajari musik-musik lokal tempat mereka singgah. Gue kaget pas salah satu personelnya cerita tentang gimana dia suka Rhoma Irama. Yang terakhir, Pearl and the Oysters, band dari Prancis juga tapi mereka based di Amerika Serikat. Ini band yang klik banget buat gue dari segi referensi musik. Sangat, sangat underrated.

Bisa ceritakan bagaimana musik yang elo sukai mempengaruhi karya seni elo?
Jadi pas SMA, gue suka nongkrong di Aksara. Kerjaan gue lihat-lihat CD dan artwork-nya. Pada saat itu, gue juga sedang terobsesi dengan poster-poster konser era Fillmore East. Alhasil, ya gue kejarlah itu. Gue mengesampingkan cita-cita jadi insinyur supaya suatu saat bisa jadi orang yang bikin artwork untuk band-band. Gue belajar desain, nongkrong tiap minggu di gig-gig ibu kota. Musik memang bagian yang nggak bisa lepas dari hidup gue, jadi otomatis itu berpengaruh banget ke dalam gue berkarya. Bisa dibilang, dari semua karya gue, 75 persennya terinspirasi dari musik yang gue dengar pas lagi bikin karya.

Mana yang jadi cinta pertama elo: gambar atau musik?
Gambar, pastinya. Gue memang suka gambar dari kecil. Sementara musik baru masuk ke hidup gue sekitar kelas 4 SD. Nggak penting sih apa yang pertama, yang penting sekarang gue bersyukur banget bisa menggabung keduanya dan actually hidup dari situ.

Dari perspektif elo sendiri, bagaimana karya elo berkembang dari waktu ke waktu?
Gue mengikuti idola gue, David Bowie. Evolusi itu penting, tapi kalau David Bowie mau evolusi jadi kadal pun, orang tetap tahu itu David Bowie. Yang gue tangkep, ya elo cari tuh apa yang membuat elo unik, kemudian elo kembangkan terus saja. 

Hal apa yang masih mengejutkan diri elo sendiri ketika elo berkarya?
Mungkin reaksi orang. Ada banyak referensi trivial yang personal di dalam karya gue. Kayak misalnya ada referensi The Beach Boys di salah satu karya gue, kemudian tiba-tiba ada orang Brazil yang sadar dan cerita tentang bagaimana lagu favorit dia ada di album yang gue referensikan itu. Ajaib banget bagaimana musik bisa menyambungkan orang dari belahan dunia yang berbeda. Salah satu alasan gue suka banget bikin poster adalah karena, menurut gue, itu bentuk seni yang sangat approachable; mudah diakses dan dimiliki semua orang. Elo nggak perlu ke galeri atau museum, si poster bisa elo tempel dan lihat tiap hari di kamar elo. Sebagus-bagusnya karya di galeri, poster butut yang elo lihat tiap hari di kamar sendiri akan jauh lebih personal.

Bagaimana lingkungan sekitar memengaruhi elo dalam membuat karya?
Gue bersyukur dikelilingi orang-orang suportif yang terus membuat gue semangat berkarya. 

Apakah pandemi setahun terakhir berdampak banyak untuk elo, baik terhadap kehidupan pribadi maupun karier dan aktivitas elo sebagai seniman?
Nggak juga sih. Kebetulan gue anak rumahan dan memang kerja di rumah. Jadi pandemi atau non-pandemi nggak terlalu ngaruh buat gue. Paling jadi jarang ketemu teman saja. Kangen travel juga sih. Gara-gara pacar gue, gue jadi hobi nonton acara travel, salah satunya Rick Steves. Keren tuh orang.

“Gue mengesampingkan cita-cita jadi insinyur supaya suatu saat bisa jadi orang yang bikin artwork untuk band-band.”

Apa hal baru yang elo temukan, pelajari, atau malah elo eksplorasi lebih dalam setahun belakangan? 
Gue banyak menemukan elemen baru yang bisa gue implementasikan ke dalam karya-karya gue. Warna, pattern; hibernasi kayak begini memang menguntungkan untuk development.

Ardneks juga telah mendesain merchandise terbaru Studiorama; tersedia dalam dua warna.

Apa hal sederhana di sekeliling elo yang menurut elo menarik dan punya pengaruh mendalam bagi diri elo?
Dulu, gue nggak suka banget sama kucing. Nyokap gue pernah keguguran ketika sedang mengandung calon adik gue, karena virus tokso yang datang dari kucing temannya. Nah, sekitar empat tahun lalu, gue tiba-tiba menolong kucing di pinggir jalan yang baru ketabrak. Gue rawat diam-diam di kamar sampai dia sehat, sampai sekarang dia sudah punya empat anak. Sejak pandemi ini, karena gue di rumah terus, gue dan kucing-kucing gue jadi attached banget satu sama lain. Kocak juga sih kalau diingat-ingat. Sekarang, mengajak ngobrol kucing jadi hal yang esensial dalam keseharian gue.

Bagaimana Ardneks menjalani hari-harinya?
Normal saja kok. Gue biasanya tidur bareng kucing gue, Oh Hih. Dia yang bangunin gue karena minta makan. Setelah itu mandi, bikin kopi, pasang musik, telepon pacar, terus berkegiatan.

Apakah benar bahwa memasak adalah hal yang sangat elo sukai, selain menggambar dan bermusik, tapi tidak banyak orang yang tahu?(tertawa) Iya, gara-gara kebanyakan menonton acara masak. Gue jadi sadar betapa pentingnya untuk menginvestasikan ketertarikan elo di hal lain. Jadi di saat gue jenuh berkarya, ya gue masak deh. Ala kadarnya sih, tapi dengan mengalihkan fokus sementara ke masak, hasrat elo dalam berkarya jadi bisa balik lagi.

“Sebagus-bagusnya karya di galeri, poster butut yang elo lihat tiap hari di kamar sendiri akan jauh lebih personal.”

Apa tiga hal yang orang-orang tidak tahu dari Ardneks, tapi elo rasa orang butuh tahu?
1. Gue drop out kuliah. Butuh tahu soalnya elo nggak butuh kuliah atau gelar buat mengejar passion elo.
2. Mata gue minus lima. Gue pakai lensa kontak, jadi banyak orang yang nggak tahu. Butuh tahu soalnya gambar dan kerja di depan komputer seharian bikin mata elo rusak. Jadi ya, heads up saja.
3. Album Centralismo-nya Sore itu titik awal buat gue. Gue masih kelas 2 SMA, takjub mendengar album itu sambil lihat artwork-nya Mayumi Haryoto. Itulah album yang membuka pintu gue ke musik indie lokal. Cita-cita bikin artwork buat band yang tadinya agak fana, jadi seakan lebih bisa dicapai. Soalnya, gila, itu album lokal bagus banget. Jadi kalau nggak ketemu album Centralismo, mungkin gue bisa jadi insinyur sekarang. Butuh tahu soalnya penting untuk ingat akar elo.

Kalau elo bisa melakukan perjalanan waktu untuk menghabiskan 24 jam dengan seseorang, siapa orang yang akan elo pilih dan apa yang akan kalian lakukan?
Salah satu seniman yang jadi inspirasi gue, namanya Henry Darger. Di sepanjang hidupnya, sampai dia meninggal, dia kerja sebagai tukang bersih-bersih. Ketika landlord-nya mau merapikan apartemennya, ada bertumpuk-tumpuk manuskrip dan karya yang ditemukan di sana. Jadi nggak pernah ada orang lain yang tahu kalau dia ini seniman; dia benar-benar berkarya buat diri sendiri. Kalau itu bukan bentuk kesenian yang paling murni, gue nggak tahu apa lagi. Seru banget pasti bisa ngobrol, dengar dia cerita, dan melihat proses berkaryanya.

Kredit Editorial
Fotografer: Alviyena Inkamano
Pengarah gaya: Johno Surodji
Model: Bari @ Silver Models

About the Author

Yogha Prasiddhamukti
-
Gemar ngobrol ngalor-ngidul (dan mewawancarai orang-orang) berkat pengalamannya menjadi reporter, editor, serta penulis lepas untuk beberapa media musik selama satu dekade terakhir. Pemilik selera humor yang agak kering ini juga adalah pendiri label rekaman Winona Tapes, disjoki paruh waktu, dan personel band pop/rock alternatif antar kota bernama Skandal.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen