Ramblings: Satu Dekade Pencarian Jati Diri Melalui Musik Elektronik

by Madrim DjodyJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Kapan pertama kali Anda sadar menyukai sesuatu, bahkan sampai terpengaruh secara obsesif? Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, saya percaya bahwa setiap orang yang memiliki obsesi terhadap musik sejak usia dini mendapatkan pengaruhnya dari anggota keluarga atau pengasuh utama.

Saya sendiri, pada awalnya, diperkenalkan dengan musik rock dan komposisi klasik. Ayah seringkali mengajak saya untuk mendengarkan lagu-lagu rock progresif bersamanya sejak saya kecil. Mendengarkan lagu-lagu berdurasi panjang dengan pola instrumentasi berulang sama sekali tidak mengganggu saya pada usia 8 tahun. Saya ingat wajah senang Ayah ketika ia menunjukkan gitar listrik sembilan senar miliknya dan bagaimana memetiknya dengan suara gaduh adalah kepuasan utamanya.

Sampai suatu saat saya merasa bosan dengan The Beatles, Jimi Hendrix, U2, dan lainnya, karena Ayah terobsesi dan memutar musik mereka terus-terusan. Saat itulah saya menyadari keinginan mengeksplorasi musik dan menjadi kompetitif terhadap Ayah sebagai cara untuk melawan pengaruh musiknya.

Perjalanan saya dalam menelusuri berbagai genre musik dimulai pada awal dekade 2000-an, ketika saya berusia 14 tahun. Saat itu, menjadi remaja benar-benar berbeda dengan sekarang; kami ada di masa transisi antara kehidupan analog dan budaya internet yang masif. Butuh tiga hingga lima menit, terkadang lebih, untuk bisa terhubung ke internet (ingat bunyinya?). Era di mana kami perlu menonton siaran televisi demi bisa menemukan video musik favorit muncul; berjam-jam lamanya memantau MTV, menikmati suara, gambar, dan terkesima akan persona sebuah musisi.

Pada pertengahan dekade 2000-an, ledakan internet menandakan teknologi yang semakin melaju cepat. Situs jejaring sosial mulai bermunculan bersamaan dengan metode berbagi peer-to-peer yang sebetulnya ilegal. Alhasil, proses penemuan musik zaman itu menjadi sangat menyenangkan, bahkan tak jarang orang-orang cukup protektif dengan musik yang mereka temukan masing-masing. Ini juga merupakan masa di mana saya menemukan musik elektronik, yang masih sangat berpengaruh bagi saya sampai detik ini.

Masuk ke masa remaja, saya mendapat pengaruh dari koleksi musik elektronik kakak perempuan saya yang tersimpan di dalam iPod generasi pertama kepunyaannya. Asumsi saya, ia mendapatkan ribuan lagu elektronik dari pacarnya saat itu, seorang DJ yang berbasis di London. Tiga kakak saya tinggal di sana selama bertahun-tahun dan saya sering terbang mengunjungi mereka.

Saya menemukan bahwa musik elektronik dapat dibagi menjadi berbagai macam genre yang lebih mendalam: house, techno, electro, minimal tech house, ambient, downtempo, trip hop, IDM, dan masih banyak lagi. Karya-karya yang mempengaruhi saya datang dari Aphex Twin, Bent, Burial, dan Roisin Murphy; saya pun bergerak menjelajahi musik serupa. Pada saat yang bersamaan, saya juga sering menyalin koleksi musik kakak saya berkat keajaiban teknologi iTunes. Saya sempat sangat menyukai Chicks on Speed, khususnya lagu “Euro Trash Girl”, tanpa memahami konteks arti ‘speed‘ dalam nama band mereka.

Pada tahun 2006 hingga 2010, saya beranjak pergi ke Kuala Lumpur dan London untuk menjalani kuliah. Penemuan musik pun menjadi semakin mudah, walau situs unduh yang mudah diakses masih bersifat ilegal. Saya menjadi terdorong untuk mendalami semua jenis musik. Sebagai seorang introver, saya lebih suka metode peer-to-peer seperti Soulseek dan Limewire, terhubung dengan teman-teman secara online via Last.fm, dan membaca sejarah musik melalui AllMusic.com. Layanan streaming musik macam Pandora dan Spotify sudah diperkenalkan, tetapi butuh hampir satu dekade sampai jangkauan mereka mencapai skala global.

“Saya sempat sangat menyukai Chicks on Speed, khususnya lagu ‘Euro Trash Girl’, tanpa memahami konteks arti ‘speed’ dalam nama band mereka.”

Bertahun-tahun dikelilingi orang-orang kreatif ketika itu semakin mendorong saya untuk terhubung dengan pengetahuan mendalam seputar musik, terutama musik elektronik. Ada tiga lagu elektronik yang melekat bagi saya pada awal 2000-an:

1. Burial – “Archangel”
“Karya Burial telah menyentuh banyak orang, membuka diri mereka terhadap emosi yang rumit, melukai mereka dengan cara-cara yang berarti,” begitu ulasan Pitchfork terhadap album Untrue di mana lagu ini termuat. Saya harus setuju dengan kutipan tersebut, karena akurat menjelaskan perasaan saya dalam mendengarkan albumnya. “Archangel” sendiri menyimpan harmonisasi antara komposisi ketukan dengan lirik yang sentimental. Ada pula kejutan berupa selipan elemen strings yang diolah menjadi suara synth.

2. Ellen Allien & Apparat – “Way Out
Hasil kolaborasi antara salah satu DJ techno terbaik sejak akhir dekade ’90-an dengan seorang musisi IDM fenomenal. Diambil dari album Orchestra of Bubbles, lagu “Way Out” memuat berlapis bunyi kompleks seperti irama elektro, alunan strings, suara gitar, dan tentunya vokal hipnotis Ellen Allien.

3. Broadcast – “America’s Boy”
Saya akan selalu menjadi fangirl Trish Keenan dan Broadcast (istirahat dalam damai, Trish <3). Mendengarkan album-album Broadcast seperti menyimak lukisan abstrak yang menenangkan. Meskipun bisa memainkan pikiran karena synth dan suara-suara lain yang cenderung eksperimental, ketukannya masih relatif teratur. Pada lagu “America’s Boy”, dari album Tender Buttons, saya bisa menangkap bahwa lirik dan suara drumnya ingin berbicara soal tentara Amerika Serikat, walau mereka tidak gamblang mengutarakannya.

Saya juga telah membuat playlist musik elektronik 2000 – 2010 berdasarkan ingatan tanpa browsing. Menantang diri dalam menggali kembali apa yang saya pikirkan dan apa yang mempengaruhi saya pada tahun-tahun tersebut, juga sekadar membagikan lagu-lagu yang saya anggap monumental kepada Anda.

Saya akan menginjak usia 32 tahun pada 2021. Kerap saya berpikir: apakah saya akan menjadi seperti Ayah saya yang mendengarkan lagu yang itu-itu saja saat umur saya semakin bertambah? Saya harap tidak.

About the Author

Madrim Djody
-
Perempuan introver yang terobsesi dengan musik dan teknologi, serta bersemangat membangun komunitas di sektor kreatif. Vegetarian yang sedang mengurangi konsumsi susu dan telur, percaya bahwa keseimbangan kerja dan hidup itu penting, juga suka berlatih meditasi setiap hari untuk menjaga Zen-nya. Selain menjadi bagian dari Studiorama, ia juga merupakan salah satu pendiri Archipelago Festival.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen