Sound + Vision: ‘Black Girl’ – Ketika Harapan Berubah Menjadi Tragedi

by Xandega TahajuansyaDes 18, 2020

Tersedia dalam bahasa:

Sound + Vision adalah rubrik yang menggabungkan ulasan film dengan playlist yang terinspirasi dari film yang diulas. Kali ini, Xandega Tahajuansya menelaah Black Girl selaku salah satu film perdana arahan sutradara kulit hitam yang mampu meningkatkan kesadaran publik mengenai perjuangan orang-orang kulit hitam di berbagai belahan dunia.

La noire de… (Judul internasional: Black Girl)
Sutradara: Ousmane Sembène
Tahun rilis: 1966
Negara: Senegal

Dengarkan playlist yang terinspirasi oleh Black Girl di bawah ini.

Film ini membawa kita berjalan di sisi Diouana, perempuan muda berkulit hitam dari perumahan kumuh di Dakar. Secara naif, Diouana mengira ada masa depan cerah menanti ketika ia diangkat jadi asisten rumah tangga oleh sebuah keluarga kulit putih. 

Sutradara Ousmane Sembène paham bahwa demi bisa menggarap sebuah tragedi dengan anggun, ia harus menyeimbangkannya dengan keindahan yang subtil. Bila hal tersebut dapat dicapai, dampak sebuah film mampu menetap lama di emosi dan pikiran penonton, bahkan sampai berhari-hari setelah film ditonton. Ironisnya, Black Girl bukanlah tragedi yang indah, melainkan keindahan yang terhentikan oleh tragedi. Penonton diberikan segelintir harapan atas keindahan-keindahan yang sangat terjangkau, namun tiada yang kunjung datang.

Jika Anda berpikir bahwa kisah fiksi berlandaskan kejadian nyata ini bisa memberi jawaban/penjelasan di antara fakta yang ada, maka Anda keliru. Film ini justru melontarkan pertanyaan-pertanyaan agar penonton tidak dibutakan oleh kenyataan. Sembène sangat jitu menggunakan filmnya sebagai katalis agar publik melakukan refleksi terhadap diri masing-masing.

Kenapa kepolosan dan keindahan dapat dianiaya? Seberapa halus seseorang bisa digiring ke arah bahaya? Sejauh apa peradaban bisa menindaki rasisme dari era pasca-kolonialisme sampai sekarang? 54 tahun sejak pertama kali dirilis, Black Girl masih relevan hari ini.

Rangkuman

Nilai: 9.5/10
Karakter favorit: Diouana.
Tonton film ini bila Anda suka: George Washington (David Gordon Green, 2000), Vivre sa vie (Jean-Luc Godard, 1962).
Sorotan: Ousmane Sembène, yang memulai kariernya lewat film ini hingga kemudian dicap sebagai bapak film Afrika.

About the Author

Xandega Tahajuansya
-
Salah satu personel band Polka Wars dan juga pendiri beberapa perusahaan yang berkontribusi terhadap lingkungan. Memiliki minat dalam menonton dan membuat film sejak Ibunda menceritakan bahwa Xandega kecil tidak suka cerita apa pun kecuali film-film yang ia tonton.
Share Article

Sign up for our monthly newsletter and get the best of Printscreen in your in-box

© copyright 2020 Printscreen