Film dan Album Terbaik 2020 Pilihan Sound + Vision

by Xandega TahajuansyaJan 27, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Lima Film Terbaik 2020 dan Playlist Pasangannya

2020 adalah tahun yang miskin blockbuster namun kaya akan film-film independen berkualitas. Apalagi, dengan ditutupnya bioskop, para penikmat yang rajin mencari tontonan baru jadi punya potensi tinggi untuk bertemu dengan film-film kecil berkualitas tersebut di rumah masing-masing.

Inilah koleksi film dari tahun 2020 yang meninggalkan kesan bagi pengasuh rubrik Sound + Vision, disertai pilihan lagu-lagu yang dirasa pas untuk melengkapi pengalaman menonton. Semoga Anda bisa menemukan film dan lagu favorit baru lewat daftar berikut ini.

1. Martin Eden (sutradara: Pietro Marcello)

Sudah lama rasanya sejak sebuah film bisa benar-benar membawa saya ke ruang dan waktu berbeda. Ambisi sang karakter utama (dimainkan dengan gagah oleh Luca Marinelli) yang terpancar keluar layar beserta kombinasi sinematografi 16mm dan cuplikan film dokumenter dari awal abad 20 menjadikan Martin Eden sebagai salah satu film drama periode paling komplet yang pernah saya tonton.

2. Kajillionaire (sutradara: Miranda July)

Pada film ketiganya ini, Miranda July akhirnya menemukan keseimbangan antara karakternya yang aneh dengan laju film yang girang; sesuai untuk generasi ADD zaman sekarang. Kajillionaire bisa membuat saya selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dan lalu terkejut dibuatnya. Menurut saya, film ini merupakan resipien adegan penutup terbaik, karakter terbaik (Old Dolio, dimainkan dengan jenaka dan tulus oleh Evan Rachel Wood), dan film terlucu di sepanjang 2020.

3. Small Axe: Lovers Rock (sutradara: Steve McQueen)

Film ini — bagian dari antologi Small Axe garapan Steve McQueen — seperti pesta rumahan yang ingin Anda datangi namun apa daya tangan tak sampai. McQueen berhasil menampilkan sebuah pesta rumahan secara lengkap dengan sendu dan cerianya, balada dan kerasnya, serta ancaman yang selalu terasa di luar oase kebahagiaan pesta. Lovers Rock bisa menggantikan rindu kita terhadap pesta yang kian tenggelam di masa pandemi ini. Bahkan apabila nanti kita bisa berpesta lagi, pasang saja film ini dan pasti orang-orang bisa menikmatinya.

4. Nomadland (sutradara: Chloé Zhao)

Untuk orang-orang yang selalu merasa kalau hidupnya mendekati kehancuran berkeping-keping. Nomadland membuka kesempatan hidup baru lewat cara yang lebih sederhana dan murni melalui perspektif Fern (dimainkan Frances McDormand). Film paling tulus dari tahun 2020 ini membaurkan fiksi dengan fakta, menggabungkan aktor profesional dengan non-aktor, mengangkat subjek yang sangat bersahaja tanpa basa-basi.

5. I’m Thinking of Ending Things (sutradara: Charlie Kaufman)

Film horor/non-horor terbaik dan juga film dengan aktor/aktris terbaik di 2020. Charlie Kaufman muncul kembali, kali ini mengadaptasi buku Iain Reid, lewat cara khasnya namun dengan tambahan bumbu misteri dan horor subtil yang mengingatkan saya terhadap karya-karya David Lynch. Penuh ketegangan, emosi, dan juga teka-teki yang membuat saya bingung namun bahagia — rasa-rasa yang sebenarnya saya harapkan dari menonton Tenet.

Film-film lain yang juga layak mendapat sorotan:
Collectiv (sutradara: Alexander Nanau)
Ema (sutradara: Pablo Larrain)
Babyteeth (sutradara: Shannon Murphy)
Sound of Metal (sutradara: Darius Marder)
Another Round (sutradara: Thomas Vinterberg)


Lima Album Terbaik 2020 dan Film Pasangannya

Inilah album-album favorit Sound + Vision yang dirilis pada 2020 beserta beberapa film favorit saya sepanjang masa yang dirasa pas untuk melengkapi suasana, intisari, dan juga energi dari album terpilih. Harapannya, dengan daftar ini, Anda bisa menikmati cara baru dalam menemukan album maupun film favorit Anda.

1. Sault – Untitled (Black Is) & Untitled (Rise) x BlacKkKlansman (Spike Lee, 2018)

Kolektif misterius Sault menelurkan empat album sejak mereka muncul pada 2019, namun rasanya mereka seperti sudah menjamu kita selama satu dekade dengan evolusi yang mantap dan organik lewat tiap rilisan. Dan sepasang album teranyar Untitled seperti menjadi album yang kita butuhkan dalam melewati 2020 yang berat.

Baik Black Is maupun Rise sama-sama mengangkat keluh kesah, perjuangan, dan emansipasi orang-orang kulit hitam, sehingga jadi tepat untuk menyandingkannya dengan BlacKkKlansman dari Spike Lee yang membicarakan sulitnya perjuangan orang kulit hitam di Amerika Serikat. Selain itu, kedua karya ini juga memancarkan rasa bangga mereka terhadap kebudayaan kulit hitam yang unggul.

2. Fleet Foxes – Shore x Old Joy (Kelly Reichardt, 2006)

Album yang menjadi cahaya kebahagiaan sebagai penyeimbang kegelapan 2020. Jarang sekali sebuah band merilis materi baru yang sifatnya melengkapi album sebelumnya — bagi saya, Shore adalah petang hari untuk malam harinya Crack-Up. Istimewanya lagi, Fleet Foxes masih berjaya lewat antusiasme yang serupa dengan kemunculan pertama mereka lebih dari satu dekade lalu.

Old Joy — film Kelly Reichardt favorit saya — menjadi yang paling pas untuk menemani Shore; dengan ketenangan, kenyamanan, dan pertemanan yang bersahaja.

3. Perfume Genius – Set My Heart on Fire Immediately x And Then We Danced (Levan Akin, 2019)

Sangat emosional, indah, namun aneh; inilah Perfume Genius yang sedang berada di atas angin dalam berkreasi. Ia terdengar lebih yakin, lebih dewasa, dan tetap ekspresif dalam instrumentasinya.

Aransemen menggelitik dan vokal rapuh mengingatkan saya akan asmara yang tertahan dari dua karakter utama And Then We Danced karya Levan Akin. Mereka hanya bisa mengekspresikan taksiran satu sama lain lewat dansa-dansi dan curi-curi pandang. Oh iya, album ini juga memiliki tata suara terbaik untuk tahun 2020 versi saya.

4. Yves Tumor – Heaven to a Tortured Mind x Only Lovers Left Alive (Jim Jarmusch, 2013)

Yves Tumor akhirnya berserah dengan takdirnya menjadi rockstar bawah tanah nomor wahid lewat album ini. Walaupun terhitung masih di awal karier, Yves Tumor terdengar bisa menjadi penerus ikon-ikon seperti Prince dan David Bowie dengan eksplorasi rock dan pop yang andal dan cerdik.

Saya bisa membayangkan Yves Tumor, dengan gaya yang eksentrik layaknya makhluk nokturnal dan sound yang cenderung lebih rock, menjadi teman sesama vampir dari Tilda Swinton dan Tom Hiddleston pada film Only Lovers Left Alive. Misterius, berbudaya, dan berbahaya.

5. Dua Lipa – Future Nostalgia x Barbarella (Roger Vadim, 1968)

Musik pop mainstream seperti terselamatkan dengan munculnya Future Nostalgia. Sebuah album yang terealisasi sepenuhnya: meroket di tangga lagu namun masih menghargai akar musik disko dan pop ‘80-an dengan persembahan yang eksplisit juga implisit dalam lagu-lagunya.

Melihat judul dan sampul albumnya, saya tidak bisa mengelak dari citra Jane Fonda sebagai ikon retro-futuris pada film Barbarella; sama-sama gembira, seksi, pintar, dan datang untuk menyelamatkan dunia.

Album-album lain yang juga layak mendapat sorotan:
– Adrianne Lenker – songs / instrumentals
– Zebra Katz – Less is Moor 
– Ana Roxanne – Because of a Flower
– Mary Lattimore – Silver Ladders
– Taylor Swift – Folklore & Evermore

About the Author

Xandega Tahajuansya
-
Salah satu personel band Polka Wars dan juga pendiri beberapa perusahaan yang berkontribusi terhadap lingkungan. Memiliki minat dalam menonton dan membuat film sejak Ibunda menceritakan bahwa Xandega kecil tidak suka cerita apa pun kecuali film-film yang ia tonton.
Share Article

Sign up for our monthly newsletter and get the best of Printscreen in your in-box

© copyright 2020 Printscreen