Sound + Vision: ‘Mirror’ – Kenangan Bagai Detail Lukisan

by Adhika SigitJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Sound + Vision adalah rubrik yang menggabungkan ulasan film dengan playlist yang terinspirasi dari film yang diulas. Salah satu penulis tamu pada edisi ini adalah Adhika Sigit yang memilih Mirror, dapat dianggap sebagai film Andrei Tarkovsky paling personal, sebagai subjeknya.

Зеркало (Judul internasional: Mirror)
Sutradara: Andrei Tarkvosky
Rilis: 1975
Negara: Rusia

Dengarkan playlist yang terinspirasi oleh Mirror di bawah ini.

Ketika diminta untuk memberikan pesan bagi generasi muda, sutradara legendaris Andrei Tarkovsky asal Rusia bersabda: “Mereka harus belajar untuk menyendiri. Menurut saya, keinginan untuk bersama orang lain agar tidak merasa kesepian adalah sebuah pola pikir yang keliru. Setiap orang harus belajar bagaimana cara menghabiskan waktu dengan diri sendiri sejak dini. Bukan berarti mereka harus kesepian, tapi jangan sampai mereka bosan dengan dirinya sendiri. Bila Anda bosan dengan diri sendiri, itu membahayakan harga diri.”

Refleksi diri adalah aktivitas yang, tanpa disadari, telah terabaikan karena keterhubungan kita terhadap kemajuan teknologi. Memang, terkadang muncul rangkaian instruksi, frasa motivasi, atau saran-saran yang dikemas apik secara online untuk menginformasikan cara terbaik dalam memproses pikiran dan/atau perasaan kita. Tetapi pada kenyataannya, secara definisi, refleksi diri harus sepenuhnya pribadi, karena pengalaman sadar seseorang bersifat subjektif dan tidak dapat ditiru.

Dalam filmnya yang keempat, Mirror, Tarkovsky menawarkan sebuah eksplorasi epik yang didedikasikan untuk refleksi diri. Dia menguji kembali bagaimana medium film dapat menggambarkan pengalaman introspeksi hidup secara intim.

Dari kursi penonton, Mirror merupakan cerita kenangan hidup seseorang yang diterjemahkan ke film secara menyeluruh; Tarkovsky layaknya penyelidik detail sebuah lukisan. Dari mana Anda mulai melukis? Lukisan selalu dipamerkan dalam fase yang sudah rampung, namun senimannya pasti memulai lukisan itu dari satu titik. Sama seperti hidup yang dibentuk, atau bahkan dimulai, dengan beragam pengalaman. Di mana hidup itu berhulu?

Ketika kita melihat kembali ke kenangan-kenangan yang membuat hidup menjadi utuh, ada kesadaran bahwa kenangan tersebut datang dalam fragmen acak dari waktu berbeda-beda. Diilhami tidak hanya oleh emosi yang kita miliki pada saat kenangan itu terjadi, tetapi juga diselingi dengan pikiran dan perasaan baru yang terkumpul setelahnya. Tak berbeda dengan lukisan yang sudah rampung, di mana kita meneliti, atau setidaknya menyadari, bagian-bagian detailnya secara acak; bukan dari urutan goresan yang membangun lukisan itu.

Mirror adalah film yang layak dikunjungi kembali di masa sekarang sebagai pengingat akan kebijakan yang muncul saat kita meluangkan waktu untuk menggali diri, merenungkan setiap sapuan kuas yang mewarnai hidup.

Rangkuman

Nilai: 9/10
Adegan favorit: “penyelesaian” motif, di mana angin bertiup melalui ladang dan masuk ke rumah, diakhiri dengan sorotan via cermin terhadap anak yang sedang memegang botol susu. Adegan ini layak memenangkan penghargaan untuk pergerakan kamera paling puitis sepanjang masa.
Tonton Mirror bila Anda suka: The Tree of Life (Terrence Malick, 2011), A Ghost Story (David Lowery, 2017), dan Baraka (Ron Fricke, 1992) atau Samsara (Ron Fricke, 2011).
Sorotan: Margarita Terekhova sebagai katalis dan wajah dari keseluruhan pengalaman ini.

About the Author

Adhika Sigit
-
Seorang software engineer yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap ragam bentuk seni. Saat ini sedang bermukim di Kamakura, Jepang, bekerja untuk perusahaan teknologi berbasis komunitas.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen