Sound + Vision: ‘Siti’ – Hidup yang Terasingkan

by Hana Oktavia AnandiraJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Sound + Vision adalah rubrik yang menggabungkan ulasan film dengan playlist yang terinspirasi dari film yang diulas. Salah satu penulis tamu pada edisi ini adalah Hana Oktavia Anandira yang memilih Siti arahan Eddie Cahyono sebagai topik bahasannya. Sebuah film hitam-putih modern yang bisa dibilang sebagai salah satu film Indonesia terbaik dalam satu dekade belakangan.

Siti
Sutradara: Eddie Cahyono
Tahun rilis: 2014
Negara: Indonesia

Dengarkan playlist yang terinspirasi oleh Siti di bawah ini.

Menonton film ini bagaikan menyaksikan perang bisu. Dalam satu setengah jam, Eddie Cahyono menggiring penonton ke dalam kehidupan Siti (Sekar Sari) yang memiliki realita yang selalu bertentangan. Di siang hari, Siti menjual kerupuk udang dan di malam hari, bahkan sampai pagi, menjadi escort untuk banyak lelaki di sebuah tempat karaoke murah. Seperti film-film lain yang fokus dalam identitas protagonisnya, peristiwa-peristiwa bertentangan dalam hidup bisa muncul karena kekurangan dan ketiadaan pilihan. Dalam kasus Siti, perjuangan sehari-harinya kerap ditemani sikap dan perasaan yang enggan.

Film hitam putih dengan rasio 16:9 yang cenderung berlaju lambat ini tidak memberikan sebuah klimaks yang histeris maupun eksplosif, namun Siti memang tidak membutuhkannya. Dari awal sampai akhir, Siti menjalani hari-harinya bersama Bagas (anaknya, diperankan oleh Bintang Timur Widodo) dan Bagus (sang suami yang lumpuh, diperankan oleh Ibnu WIdodo) dengan kesabaran yang muncul dari represi.

Di siang hari, Siti mengasuh anak sambil menjual makanan ringan di pinggir lautan dengan muram dan melankolis. Sedangkan pada sisi lainnya di malam hari, Siti berbicara dengan hangat dan menggoda di dalam ruangan karaoke — sebuah fasad yang harus ia jaga sebagai pencari nafkah utama di keluarganya dan juga untuk menebus utang-utang suaminya yang dulu terlumpuhkan karena kecelakaan kapal saat masih bekerja menjadi nelayan; kecelakaan yang sedikit demi sedikit merenggut perkawinan mereka. Setelah mengetahui pekerjaan malam hari Siti, sang suami menolak untuk berbicara lagi dengannya, membuat Siti berada dalam keadaan yang tersiksa.

Dualisme yang muncul dalam film ini tidak berhenti dengan upaya Siti mencapai hari-hari yang lebih indah, yang mengharuskan Siti mengganti pakaian berdagangnya menjadi tanktop ketat di malam hari. Eddie Cahyono membawa tema ini lebih jauh dengan munculnya Gatot (Haydar Saliz), polisi lokal yang dikenal atas ketampanan dan wibawanya. Ia mengkonfrontasi hubungan abnormal Siti dengan suaminya.

Dikelilingi oleh dilema kelas bawah yang melelahkan di Bantul, dari utang piutang sampai penggerebekan oplosan, film ini tidak menantang logika benar-salah, melainkan apa artinya menjadi perempuan — beserta kebebasan yang ia berhak untuk dapatkan — di dunia yang selalu mengharapkan dia untuk melayani. Dengan menghindari klise kejutan yang berlebih, Eddie Cahyono mengilustrasikan krisis secara apa adanya: sunyi dan kerap dieksplor dalam diri.

Rangkuman

Nilai: 7.5/10
Karakter favorit: Sri.
Adegan favorit: kilas balik ketika Siti mengenang saat berkumpul bersama keluarganya di bawah matahari. Selagi kaki mereka terendam lautan, Siti menyadari bahwa ikatan batin keluarganya terbentuk oleh bertahun-tahun melewati perjuangan bersama.
Tonton Siti bila Anda suka: The Science of Fictions (Yosep Anggi Noen, 2019), Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997), Happiness (Todd Solondz, 1998).
Sorotan: kontradiksi serasi antara Sri yang ceria dengan Siti yang tertutup. Tidak lama lagi aktris Delia Nuswantoro yang memerankan Sri akan muncul di banyak film panjang.

About the Author

Hana Oktavia Anandira
-
Editor untuk sebuah publikasi independen ibu kota yang memiliki ketertarikan khusus terhadap seni, kebudayaan, dan literatur. Ia percaya bahwa satu-satunya metode menulis yang ideal adalah memulai dengan pertanyaan tanpa meninggalkan jawaban. Tanggapannya soal tulisan dan narasi: tidak ada alat yang lebih kuat dari bahasa.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen