Suggestive Consumptions: Dokumenter Sepak Bola Terbaik yang Mudah Diakses Secara Online

by Dylan AmirioJun 15, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Suggestive Consumptions adalah rubrik yang menghadirkan sederet rekomendasi — apa pun formatnya — yang patut Anda konsumsi. Untuk edisi ini, ada Dylan Amirio — sosok di balik aksi elektronik eksperimental, Logic Lost, dan juga penerjemah tunggal Printscreen — dengan pilihan dokumenter sepak bola yang bisa ditonton online.

Foto oleh Raka Syahreza

Sejujurnya, saya baru mulai mengikuti sepak bola selama tiga tahun. Sebelum itu saya tidak peduli sama sekali. Saya tidak paham apa yang seru dan, alhasil, saya tak bisa bergabung dalam percakapan teman-teman saya terkait sepak bola. Saya pun kerap merasa seperti orang asing, lebih memilih untuk tetap terisolasi dalam gelembung minat saya sendiri, seperti musik dan kesenian lainnya.

Namun tiga tahun lalu, saya berkeinginan untuk menyeburkan diri ke dunia baru, jauh dari apa yang biasa saya konsumsi. Toh, musik dan kesenian lainnya mulai membosankan (dan masih begitu sampai sekarang) jadi saya memilih sepak bola, mencoba mempelajari hampir semuanya dari nol.

Walau terlambat, kini saya terobsesi dengan sepak bola: mencoba mengikuti setiap pertandingan Liga Premier Inggris tiap minggunya, membaca kabar terbaru dari lima liga utama Eropa, menghabiskan berjam-jam bermain Football Manager, dan bahkan memiliki klub yang saya dukung (Arsenal, yang merupakan definisi naik-turun).

Bagi saya, menyaksikan pertandingan sepak bola sama seperti menonton dokumenter David Attenborough, di mana perilaku alami makhluk hidup tersajikan apa adanya.

Obsesi saya ini juga berarti membenamkan diri ke dalam dokumenter yang bisa membuat saya tahu lebih banyak soal klub dan figur sepak bola. Ada banyak serial dan film yang mudah diakses secara online yang menawarkan hiburan dan juga pengetahuan. Berikut sepuluh di antaranya yang meninggalkan kesan untuk saya pribadi.

Six Dreams (Amazon Prime)

Serial dokumenter sepak bola terbaik yang pernah saya tonton. Menyoroti beragam level klub di La Liga, Six Dreams menghadirkan kejujuran dan ketulusan melalui enam sudut pandang berbeda: seorang klub presiden, seorang manajer, dua pemain muda, seorang pemain senior, dan seorang direktur olahraga dari sebuah klub yang baru promosi.

Serial ini menghindari sisi glamor sepak bola (juga keruwetan relasi publiknya) dan justru menunjukkan aktivitas serta pemikiran “biasa” yang terjadi di belakang layar, dari urusan personal hingga finansial. Ketika figur dalam serial ini menangis, Anda betul-betul peduli terhadap mereka. Ketika mereka tertawa, mereka juga membawa kita untuk bersenang-senang bersama. Six Dreams adalah pembelajaran dalam penyajian yang bijaksana.

Adegan terbaik: sebagian besar segmen yang mengikuti kehidupan striker Athletic Bilbao Inaki Williams.

Sunderland ‘Til I Die (Netflix)

Kisah tentang klub dari kota kecil dan maknanya bagi para penduduk. Serial ini menggali perjuangan sosial-ekonomi kota kelas pekerja, kesuraman hidup, dan bagaimana sumber utama kebahagiaan mereka datang dari Sunderland AFC.

Namun, Sunderland AFC sedang terpuruk (dan tidak kunjung membaik). Orang-orang di luar sana cenderung dibutakan oleh stereotipe kehidupan dalam sepak bola: kekayaan, kejayaan, keanggunan di lapangan. Di Sunderland, semua itu tidak ada.

Seru melihat hubungan dan perjuangan klub melalui kacamata para pendukung, direksi, dan manajer dalam mempertahankan semangat sebuah kota yang malang. Serial ini secara haru menunjukkan realita menjalankan dan mendukung klub yang tidak sukses; bisa jadi salah satu tontonan Anda yang paling depresif. Lewatkan musim keduanya.

Adegan terbaik: dari musim pertama, ketika pemain tengah Jonny Williams berbicara kepada psikiater soal rasa takutnya terhadap kegagalan.

Anelka: Misunderstood (Netflix)

Saya tidak pernah suka Nicolas Anelka dan setelah menonton film ini, saya semakin tidak menyukainya. Film ini berisi hanya dia membela diri soal sejarah perilaku tidak menyenangkan dan sifat kekanak-kanakannya, tanpa sedikit pun momen refleksi atau ketulusan (dan terlalu banyak adegan ‘artistik’ tidak penting di mana Anelka berpose).

Memang, kepribadiannya adalah hasil dari kehidupan yang melaju terlalu cepat: seorang belia yang tumbuh besar di sorotan media, dengan hanya ego sebagai alat bertahan. Timbul simpati terhadap dirinya untuk konteks tersebut, namun pada akhirnya, film ini berupaya menggambarkan Anelka sebagai pribadi yang sempurna. Tidak berhasil.

Adegan terbaik: satu hal yang saya suka dari Anelka adalah ketika ia membangkang terhadap manajer Prancis, Raymond Domenech, pada Piala Dunia 2010. Seorang manajer yang tidak memainkan William Gallas “karena dia adalah seorang Leo” memang harus dihajar.

All or Nothing: Manchester City (Amazon Prime)

Meskipun serial ini adalah strategi bisnis dari Manchester City, paling tidak penyajiannya baik. Menghibur dan menarik melihat para pemain membuka diri soal kegelisahan, ekspektasi, dan kebatinan mereka, pada musim di mana mereka memenangkan semuanya (kecuali Liga Champions).

Ada beberapa bagian yang membuat dahi mengernyit, seperti episode yang didedikasikan untuk pemilik tajir asal Abu Dhabi dan fakta bahwa dialog Pep Guardiola terdengar sangat disusun untuk menampilkan kesan feel-good ala Hollywood. Tidak masalah, karena Pep masih merupakan salah satu manajer terbaik saat ini. Sayangnya, serial ini tidak membahas lebih dalam tentang keputusan taktik bermain Pep. Saya ingin melihat sisi tersebut lebih banyak.

Adegan terbaik: striker bintang Sergio Aguero menunjukkan apartemennya yang besar dan kosong, serta kemudian berbicara soal sepinya berada di puncak.

An Alternative Reality: The Football Manager Documentary (YouTube)

Film ringan ini membawa kita ke dunia video game populer Football Manager, dari proses enciptaannya ke bagaimana mereka membangun database yang impresif, dan yang paling penting, beragam pengalaman orang-orang yang memainkannya. Ini adalah game di mana siapa pun bisa menulis kisah sepak bola mereka sendiri secara romantis, jauh dari problema sepak bola di kehidupan nyata.

Saya pribadi banyak belajar soal sepak bola Korea Selatan melalui game ini setelah bermain 10 “tahun” menjadi manajer di K-League. Go, FC Anyang!

Adegan terbaik: pemain yang apartemennya pernah didatangi polisi karena salah satu tetangga mendengar dia teriak begitu kencang. Ternyata ia sedang menghidupi fantasi membawa klub favoritnya bermain di final Liga Champions via Football Manager… sambil mengenakan setelan jas lengkap untuk merayakan momen tersebut.

All or Nothing: Tottenham Hotspur (Amazon Prime)

Tontonan yang seru secara keseluruhan, namun lebih terang-terangan menjadi strategi bisnis dibanding All or Nothing: Manchester City. Misal, segmen NFL yang kurang penting, walau sebetulnya menarik investor juga penting.

Apa yang langsung Anda dapat dari serial ini adalah fakta bahwa Tottenham diisi oleh orang-orang baik dengan perilaku yang terjaga. Ini membuat mereka tampak menyenangkan dan bebas dari drama. Ruang ganti mereka jarang seramai atau sebelagu ruang ganti Manchester City.

Meski demikian, tidak ada personel, kecuali Danny Rose, yang bisa mengambil sorotan dari bintang utama Jose Mourinho. Kepribadian eksentriknya mampu menyelamatkan tiap adegan yang awalnya berpotensi membosankan. Seru melihat Mourinho menjadi dirinya sendiri, baik itu terkait sifat blak-blakannya atau kecerobohannya.

Adegan terbaik: ketika bek kiri Danny Rose mengonfrontasi Jose Mourinho di kantor mengenai waktu bermainnya.

Inside Borussia Dortmund (Amazon Prime)

Bagi saya, hal paling mengejutkan dari serial ini adalah atmosfernya yang serupa ASMR: figur-figurnya berbicara dengan lembut, tata suaranya brilian, dan tidak ada hiperbola dalam penggambarannya. Inilah dokumentasi yang efektif bagi siapa pun yang mau belajar soal Borussia Dortmund, walau saya rasa presentasinya bisa dibuat lebih mendetail lagi.

Adegan terbaik: ketika mantan manajer Dortmund Jurgen Klopp bercerita, dengan sifat periangnya yang khas, soal apa yang terjadi pada dirinya setelah merayakan momen menjuarai Bundesliga 2011.

This is Football (Amazon Prime)

Perspektif yang luas tentang bagaimana sepak bola memengaruhi kehidupan banyak orang di dunia, disajikan dengan gaya yang mendalam dan berdampak besar. Serial ini memerlakukan para subjeknya dengan rasa hormat, memberikan mereka kebebasan penuh dalam berkisah, dari komunitas Rwandan Reds yang menceritakan tentang bagaimana sepak bola membantu mereka dalam mengatasi trauma genosida hingga tim nasional perempuan Jepang yang menjuarai Piala Dunia 2011 beberapa bulan setelah gempa bumi Tohoku.

Adegan terbaik: ketika komentator Islandia berkata, “Protes sesuka Anda, Inggris. Kami yang lolos ke babak selanjutnya!,” dengan semangat layaknya bocah cilik setelah Islandia menyingkirkan Inggris dari Euro 2016.

Maradona in Mexico (Netflix)

Jika Anda mau melihat Diego Maradona pada masa jayanya, silakan tonton dokumenter bagus buatan Asif Kapadia. Maradona in Mexico bukanlah perayaan kehebatan Maradona, melainkan akses terhadap betapa kuat status legendanya. Ketika Anda dianggap dewa, Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan. Jika Maradona mau menghabiskan masa tuanya melatih tim akar rumput di Argentina dan, seperti ditampilkan dalam serial ini, Meksiko, maka terjadilah.

Maradona menjadi dirinya yang paling konyol dan memeable di sini, dari tarian kecilnya, kata-kata kasarnya, hingga sikap kerennya. Namun apa pun yang ia lakukan, jelas bahwa semua orang di sekitaran selalu memvalidasi setiap tindakan dan kesalahannya dikarenakan status legenda yang ia miliki — ini yang mengkhawatirkan.

Sebagai manajer, Maradona ditampilkan sebagai pribadi yang berakal sehat tetapi juga rentan terhadap temperamen yang meledak-ledak, walaupun seringnya ditujukan kepada wasit yang bertugas (alias segelintir orang di serial ini yang berani menentangnya). Namun serial ini juga menunjukkan bagaimana ia selalu memberikan 100% cinta dan komitmennya untuk apa pun yang ia lakukan.

Adegan terbaik: terpaksa menonton pertandingan dari kursi penonton akibat berseteru dengan wasit di pertandingan sebelumnya, Maradona menyerukan perintah kepada asistennya melalui walkie-talkie dengan intonasi berurat layaknya bos gangster yang mengomandokan pembunuhan.

The Other Final (YouTube)

Selagi final Piala Dunia 2002 berjalan mempertemukan dua negara terbaik di sepak bola, sepasang sutradara Belanda berkeputusan membantu menyelenggarakan pertandingan antara dua negara “terburuk”: Montserrat dan Bhutan.

The Other Final menunjukkan berbagai kondisi yang membuat kedua negara ini dianggap sebagai yang “terburuk” dan juga menyoroti bagaimana perbedaan budaya kedua negara membentuk cara mereka melihat sepak bola. Montserrat fokus untuk menang, sementara Bhutan mengedepankan senang-senang bersama. Menjadi jelas kemudian mentalitas mana yang akan unggul.

Adegan terbaik: pertandingannya itu sendiri, dan lalu setelahnya ketika striker Wangay Dorji asal Bhutan menceritakan impiannya bermain untuk Arsenal (sambil memamerkan seragam Arsenal-nya yang langka).

About the Author

Dylan Amirio
-
Penulis, penerjemah, dan musisi di balik aksi elektronik eksperimental Logic Lost. Berupaya menjalani hidup dengan ekspektasi sangat rendah guna mencegah dampak berlebih dari rasa kecewa.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen