Prelude: Atas Nama ‘Dendam’

by Reno NismaraDes 2, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Sekilas tentang kesan kami terhadap film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Bagi kalian yang kerap membaca edisi-edisi Printscreen, sepertinya sudah tahu kalau topik mengenai film memiliki porsi yang cukup besar di sini; dari rubrik tetap Sound + Vision yang menggabungkan ulasan film dengan playlist yang terinspirasi dari film yang diulas, tulisan soal film Indonesia klasik Lewat Djam Malam pada volume pertama kami, hingga edisi akhir tahun yang beberapa artikelnya membahas judul-judul film sepanjang 2020 yang meninggalkan kesan.

Tulisan-tulisan seputar film tersebut (dan tulisan lain yang pernah dan akan ada di Printscreen, sebetulnya) masuk tanpa tendensi apa pun; didasari secara sederhana oleh preferensi kami terhadap subjek yang diangkat dan/atau medium film itu sendiri. Jadi wajar saja bagi kami jika suatu saat Printscreen menerbitkan edisi khusus yang membahas film. Dan itulah yang terjadi pada edisi kali ini, di mana kami mengarahkan lampu sorot ke film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang disutradarai oleh Edwin berdasarkan buku fiksi karya Eka Kurniawan.

Langkah ini pun diambil secara alami dan tetap setia terhadap preferensi yang kami miliki, bukan berasas kemitraan belaka. Pada faktanya, kami terkesima dengan dunia yang dibangun pada film (dan buku) Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Bojongsoang yang dihuni banyak jagoan baku hantam namun juga digentayangi Petrus, serta kuasa Orde Baru yang akurat digambarkan sebagai tukang ikut campur dalam kehidupan pribadi masyarakatnya. Belum lagi bulir-bulir seluloid yang menghiasi sepanjang film.

Aspeknya yang paling luar biasa, setidaknya menurut kami: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memiliki rentang pernyataan yang luas. Film ini mengkritik maskulinitas secara tepat sasaran sekaligus menjadi penghormatan terhadap film Indonesia kelas B dari dekade ‘80-an; film ini pun cermat mengobservasi dampak dari pemerintahan berbasis rasa takut serta juga alegori yang gaib terhadap trauma.

Rasa kagum inilah yang mendorong kami untuk mengejar Edwin (hadir dalam video wawancara eksklusif), Ladya Cheryl (di mana ia menjawab rentetan pertanyaan dengan goresan tangan), Ratu Felisha (khusus mengulas Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan juga membagikan playlist yang terinspirasi dari film tersebut), Eka Kurniawan (membeberkan lima film adaptasi buku favoritnya), Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy (diwawancara untuk program audio bincang-bincang), Ananda Badudu dan Dave Lumenta (dengan deretan lagu yang menginspirasi musik dalam film), serta Sal Priadi (bercerita soal pengalaman pertamanya dalam menjadi aktor) demi bisa menghasilkan sejumlah artikel yang dapat memberi gambaran terhadap filmnya atau setidaknya orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Artikel-artikel yang kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk membentuk Printscreen edisi khusus Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini. Selamat menikmati.

About the Author

Reno Nismara
-
Enam jahitan di kepala membuatnya percaya bahwa hidup penuh dengan sudut-sudut tajam. Salah satu pendiri kolektif kreatif Studiorama dan vokalis sekaligus pengocok tamborin untuk unit musik Crayola Eyes.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen