Suggestive Consumptions: Film Adaptasi Buku Favorit Eka Kurniawan

by Reno NismaraDes 2, 2021

Tersedia dalam bahasa:

Suggestive Consumptions adalah rubrik yang menghadirkan sederet rekomendasi — apa pun formatnya — yang patut Anda konsumsi. Untuk edisi khusus ini, kami meminta Eka Kurniawan selaku penulis ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ untuk memilih lima film favoritnya yang diadaptasi dari buku.

Eka Kurniawan berpose dengan salah satu truk yang muncul dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. (Dok. Palari Films)

Eka Kurniawan adalah tipe penulis yang tidak butuh perkenalan. Karya-karyanya — yang sudah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa — bicara dengan sendirinya, antara lain Cantik Itu Luka yang dielu-elukan hingga menerima nominasi dari penghargaan sastra prestisius Man Booker International Prize pada 2016. Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas pun merupakan adaptasi buku yang lahir dari imajinasi liarnya.

Berkaitan dengan perilisan film tersebut, Printscreen meminta Eka untuk membagikan lima film adaptasi buku favoritnya. Selain menginformasikan kita terhadap preferensinya, sekumpulan pilihan berikut ini juga bisa menjadi petunjuk atas sensibilitasnya dalam berkarya.

Dracula (penulis: Bram Stoker, sutradara: Francis Ford Coppola)

“Pada dasarnya, saya suka horor gotik. Dracula merupakan salah satu karya klasik genre ini dan, di tangan Coppola, elemen-elemen horor gotik tersebut berhasil ditampilkan ke layar. Ada beberapa elemen visual yang seingat saya tak ada di novel, seperti bayangan Dracula yang bergerak sendiri, dan memberi nilai lebih kepada adaptasi filmnya.”

Trilogi The Godfather (penulis: Mario Puzo, sutradara: Francis Ford Coppola)

“Ketika membaca novelnya, trilogi ini terkesan seperti novel gangster dengan balutan drama dan thriller. Adaptasi Coppola, dengan akting para pemainnya (Marlon Brando, Al Pacino, dll.) memberi warna psikologi yang lebih kental, tak semata-mata sebagai film aksi dan pameran kebrutalan yang umum di genre gangster.”

Raise the Red Lantern (penulis: Su Tong, sutradara: Zhang Yimou)

“Saya suka film-film Zhang Yimou, terutama karena realismenya, termasuk beberapa yang diadaptasi dari novel (Su Tong maupun Mo Yan).”

Tujuh Manusia Harimau (penulis: Motinggo Busye, sutradara: Imam Tantowi)

“Saya menonton filmnya lebih dulu sebelum membaca novelnya, ketika masih remaja. Untuk pertama kali, cerita-cerita legenda tak hanya menarik dari aspek horornya, tapi juga dilihat dari perspektif psikologi dan kultur.”

The White Tiger (penulis: Aravind Adiga, sutradara: Ramin Bahrani)

“Berbeda dengan film-film di atas, ini adalah contoh film yang berhasil menangkap fenomena kontemporer di negara dunia ketiga. Pendekatan cerita yang riang tapi pahit berhasil ditampilkan, baik di novel maupun filmnya.”

About the Author

Reno Nismara
-
Enam jahitan di kepala membuatnya percaya bahwa hidup penuh dengan sudut-sudut tajam. Salah satu pendiri kolektif kreatif Studiorama dan vokalis sekaligus pengocok tamborin untuk unit musik Crayola Eyes.
Share Article

Berlangganan newsletter kami untuk mendapatkan edisi Printscreen terkini (dan banyak lagi!) langsung di inbox Anda.

© copyright 2021 Printscreen